Kamis, 03 Mei 2012



Character Istemewa dari Grandchase Korean!!!
Character ini Bernama Massively !!!
Skill  nya istimewa !!
Character ini sangat membantu untuk bermain Hero's Dugeon !!
Kalo Sudah Update Dari korea ke Indonesia kalian gak bakalan rugi kalo beli ini !! 
Character ini sangat istimewa !!!


kalau sudah ada saya jga beli kok !!
Good Luck !!
Salam Granchase 1mUtzz !!!



Asal usul nama Indonesia – Nama Indoneisa untuk pertama kalinya muncul di dunia yaitu terdapat pada tulisan James Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Logan adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada saat mengusulkan nama Indonesia Logan tidak menyadari dan tidak menduga ternyata nama Indonesia itu menjadi nama bangsa dan Negara yang mana jumlah penduduknya merupakan peringkat keempat terbesar di dunia. Dari situlah James Richardson Logan secara konsisten menggunakan nama Indonesia dalam karya ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanannya waktu pemakaian nama Indonesia menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Inilah yang menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah Indonesia di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah Indonesia itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah Indonesia itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut -Hindia Belanda-. Juga tidak -Hindia- saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai pengganti nama Nederlandsch-Indie. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama Hindia Belanda untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Penjelasan Singkat:
Mengenai Logan. Namanya: James Richardson Logan (1819-1869). Dia adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh.
Dia cuma seorang pengelola majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA); yang diterbitkan di singapura pada 1847.
Orang yang lebih arif mengenai Indonesia & kawasan di mana Indonesia itu berada adalah, George Samuel Windsor Earl (1813-1865).
Dia adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris. Pada tahun 1849, dia mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: …the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Itulah sedikit artikel tentang Asal Usul Nama Indonesia, semoga dengan artikel tersebut, Anda khususnya yang memang ingin mengetahui secara pasti tentangsejarah awal mula nama indonesia sudah tidak penasaran lagi, dan tentunya seperti yang duniabaca.com katakan dengan membaca kita akan bertambah ilmu pengetahuan.

Asal usul game online

Saat ini mungkin sedik
it sekali orang yang tidak tahu apa itu game online. Mereka mungkin tahu karena gemar atau pernah memainkan dan mungkin juga mereka hanya tahu saja tetapi tidak pernah dan tidak gemar memainkan. Tetapi apapun itu yang jelas saat ini dunia sedang benar-benar dilanda “game addict”. Sebut saja saya yang sempat tergila-gila dengan permainan online ini. Tetapi untungnya saat ini saya tidak lagi terkena sindrom “game addict”.


Lalu bagaimana sih game online ini bisa muncul? Rasanya kita perlu tahu guna menambah pengetahuan. Semua ini terjadi pastilah karena kemajuan teknologi yang kian mutakhir dan juga dari ketidakpuasan manusia pada ketidak esfisienan alat-alat yang telah ada pada zamannya. Manusia selalu menginginkan kepraktisan dalam hidupnya sehingga dapat menghemat waktu.
Sekarang mari kita flashback sebentar, melihat awal mula munculnya video game online. Game di komputer mulai muncul awal tahun 1950-an dengan dinosaurus sebagai tokoh utamanya. Kemudian ada seorang siswa yang mencipatakan permainan Tic-Tac-Toe untuk tugas sekolahnya. Pertengahan tahun 1960-an seorang siswa MIT membuat program permainan yang dikenal dengan nama Space War. Akhir 1960-an menghadirkan permainan video game yang sesungguhnya seperti Tenis Meja dan Permainan tembak-tembakan. Akhir tahun 1970-an, video game mulai digilai berkat komputer yang mulai dimiliki semua orang. Lalu semenjak komputer mulai popular, orang-orang mulai menciptakan game yang disukai oleh masing-masing dari mereka. Semua tiba-tiba berprofesi sebagai programmer. Mereka lalu menjual game ciptaan mereka ke local market. Lalu Nintendo memperkenalkan game Pole Position dan Pac-Man yang mendapat sambutan luar biasa.
Seiring dengan semakin besarnya ketertarikan akan game, teknologi piranti lunak untuk game pun berkembang makin pesat. Yang awalnya hanya sekedar game berbasis PC atau TV yang dimainkan sendiri atau secara bersamaan (multiplayer) di sebuah medium yang sama, kini mulai bergerak ke arah permainan yang terhubung secara online. Artinya, pemain dapat beradu strategi dan keterampilan dengan sejumlah besar pemain yang berada di belahan dunia lain. Kondisi ini dimungkinkan oleh keberadaan internet.




Game online sendiri mulai dikenal pada tahun 1990-an semenjak munculnya era 3-D dan multimedia. Game online yang pertama berupa game petualangan bernama Myst, tapi masih dalam bentuk CD-ROM format. Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, game online pun berkembang terus seiring dengan penemuan-penemuan yang bisa memperbaiki kualitas dari game ini. Game online pun tadinya hanya bisa dinikamati oleh satu orang tapi kelamaan semua bisa bersama-sama mengaksesnya berkat MUDs(Multi-User Dungeons). Dengan PC dan juga internet, yang kita butuhkan untuk bisa bermain adalah komputer yang bagus dengan software terbaru yang bisa menghandle program flash.






Mengingat sebentar yaitu tepatnya sekitar enam atau tujuh tahun lalu, yang sempat menjadi fenomena di kalangan gamer Indonesia adalah game yang menggunakan sistem LAN (Local Area Network) atau yang kerap disebut game jaringan. Game center berbasis LAN pun mulai menjamur di kota-kota besar, banyak diantaranya yang menerapkan sistem operasi 24 jam. Saat itu, game Counter Strike menjadi yang paling laris di kalangan gamers.


Lambat laun, kepopuleran Counter Strike termakan jaman. Kini, banyak gamers yang mulai beralih menggandrungi DotA, game yang mengusung genre Real Time Strategy, Ragnarok, dan lainnya. Semua orang yang saat itu sedang online pada waktu yang bersamaan bisa saling berinteraksi dalam permainan tersebut melalui karakter-karakter yang disediakan..


Di Indonesia, fenomena game online tidak kalah semarak dengan yang terjadi di luar negeri. Jika anda mengintip Multi Player Game (MPG) yang bertebaran di setiap sudut kota, anda akan melihat besarnya minat para gamers bermain game online. Para gamer betah bertahan selama berjam-jam di depan layar monitor untuk bermain. Di era multimedia dewasa ini, manusia menemukan sahabat-sahabat baru untuk saling bermain, berdialog bahkan beradu strategi dan bertempur. Aktivitas-aktivitas yang sangat alami dan dekat dengan kehidupan manusia pada umumnya. Sahabat baru itu bernama game, suatu media virtual yang mewadahi penggunanya untuk bermain dan adu strategi untuk dapat memecahkan suatu persoalan dan memenangkan tantangan yang disajikan di dalamnya. Secara teknis, permainan ini dapat dinikmati menggunakan komputer, televisi, atau bahkan di ponsel.
Jenis-jenis game online bergenre MOG (Multiplayer Online Game) tidak berbeda jauh dengan game berbasis LAN. Ada yang mengusung strategi, role playing, atau bahkan sport. Sebut saja, WoW (World Of Warcraft) yang berjenis RPG (Role Playing Game), PangYa yang berjenis fantasi sport atau Gunbound yang mengusung kategori turn-based.

Setiap tahun, rata-rata pertumbuhan game online mencapai 79 persen setiap tahunnya. Perkembangan game online yang cukup pesat ini ditunjang oleh penambahan pemain dan game yang diciptakan. Bagi pemain, game online saat ini bukan hanya sebagai hiburan semata. Bermain game diyakini secara tidak langsung sebagai ajang mengasah otak. Pemain dapat mengasah kecepatan berpikir dan melatih otak saat bermain game. 
Salah satu efek dari maraknya perkembangan game online adalah terciptanya komunitas-komunitas game yang memfasilitasi para gamer untuk menuangkan segala pengalaman mereka seputar bermain game tersebut. Tak hanya itu, komunitas-komunitas tersebut kemudian dijadikan ajang komunikasi multikultural yang dapat menjelma menjadi gaya hidup dan penyambung tali silaturahmi antar sesama manusia.


Ekses dari game online yang telah menjelma sebagai gaya hidup adalah pemanfaatan waktu bermain yang berlebihan. Rasanya kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidaklah menguntungkan. Game online mempunyai kecenderungan membuat pemainnya keasyikan bertengger di depan komputer sampai melupakan waktu. Jika hal ini terjadi, kita bisa melupakan tugas, pekerjaan, bahkan makan dan tidur.

Cerita Death Note


sebenarnya sudah agak basi juga kalau baru membahas film ini sekarang. mau apa lagi, filmnya sendiri dirilis di negara asalnya pada 2006, tidak lama setelah prekuelnya, yaitu Death Note: The Movie (review-nya sempat ditulis di sini beberapa waktu yang lalu) yang sempat nongkrong di puncak box-office jepang dengan sambutan yang sangat baik dari publik negara asalnya.
duh, langsung aja deh 2 the point..

film ini adalah bagian terakhir dari dua bagian Death Note yang diangkat ke dalam film, atau mungkin lebih tepatnya layar lebar. dalam film ini, anda juga akan menemukan akhir dari saling buru antara KIRA dan L, dengan teknik dan taktik yang mungkin akan membuat anda geleng-geleng kepala sendiri.
sebenarnya, tidak tepat juga kalau film ini dikatakan sebagai sekuel dari film pertamanya, yaitu Death Note: The Movie. 

sederhananya sih, film ini akan menjadi terlalu panjang kalau keduanya jalan cerita digabungkan dalam sebuah film… dan dengan demikian, jadilah cerita yang cukup kompleks ini dirilis sebagai dua buah film yaitu Death Note, yang kemudian diikuti oleh The Last Name.

ceritanya sendiri melanjutkan tepat setelah akhir film pertama, di mana Yagami Raito berperan sebagai KIRA yang melakukan pembunuhan secara misterius dengan Death Note terhadap kriminal-kriminal yang ada di seluruh dunia. sementara itu, detektif misterius yang dikenal sebagai L masih memburu KIRA, dengan adu cerdas dan saling pasang trik antara keduanya yang ditampilkan dengan baik sampai akhir film ini.

dalam film ini, dikisahkan bahwa Yagami Raito telah bergabung ke dalam pasukan khusus yang dibentuk untuk memburu KIRA, di mana di dalamnya adalah L yang tampaknya sudah memiliki kecurigaan tersendiri terhadap Raito sebagai KIRA. saling buru dan persaingan keduanya terus berlanjut dalam ‘kerjasama’ mereka, sementara di luar sana tampaknya ada KIRA lain yang juga memiliki Death Note, menghabisi kriminal-kriminal yang tidak tersentuh jerat hukum…persis merupakan kelanjutan dari Death Note, The Last Name menawarkan menu yang tidak jauh berbeda: masih ada ide yang ‘absurd’ mengenai keberadaan Shinigami dan buku catatan kematiannya, dan aturan-aturan lain yang tak kalah ‘absurd’-nya mengenai penggunaan buku yang dikenal sebagai Death Note tersebut. jadi kalau anda sudah berpikir bahwa ide dasar dari film pertamanya saja sudah ‘absurd’, anda akan menemukan ke-’absurd’-an yang lebih aneh lagi di The Last Name.

bagian lain dari menu yang ditawarkan film ini adalah suspense dan thriller yang masih layak dipuji, tidak jauh berbeda dari film pertamanya. mengutamakan adu taktik dan saling pasang perangkap antara KIRA dan L, kekuatan utama film ini memang terletak pada jalan cerita yang ditawarkan. dengan ramuan yang tidak jauh berbeda dari film pertamanya, kali ini perseteruan antara Raito dan L digambarkan dengan lebih intens dalam operasi ‘pengejaran’ terhadap KIRA.

meskipun demikian, suspense dalam konflik yang memang pada dasarnya sudah menjadi nilai tambah dari film pertamanya kini diperkeruh lagi dengan kemunculan tokoh KIRA yang lain lagi di luar sana, selain Yagami Raito yang sudah diceritakan di film pertama. hasilnya? thriller yang cukup memikat dan mampu membuat pemirsa bertahan menonton sampai film berakhir.

sementara itu terdapat perbedaan yang signifikan dari segi cerita dibandingkan dalam versi manga-nya. ada beberapa karakter yang ditampilkan, demikian juga konklusi dari cerita disajikan secara berbeda. anda yang sudah membaca manga-nya sampai selesai mungkin akan menemukan perbedaan yang signifikan mengenai jalan cerita dan penyelesaiannya, dan tampaknya hal tersebut memang dimaksudkan demikian dalam pembuatan film ini.masih dari storyline, jalan cerita disampaikan dengan lebih realistis (dan dengan beberapa perbedaan signifikan) dibandingkan versi manga-nya. cerita dalam film ini mengalir dengan relatif mulus… yah, di luar konsep dasar yang memang pada dasarnya ‘absurd’, film ini menawarkan suspense yang jauh dari membosankan. meskipun demikian, anda yang mengikuti serial manga dari Death Note mungkin akan menemukan bahwa ada perbedaan yang cukup mendasar dari segi cerita antara The Last Name dengan akhir cerita dari versi manga-nya.

bagusnya adalah, film ini tampil dengan lebih realistis daripada versi manga-nya. pendekatan dan eksplorasi karakter dilakukan secara manusiawi, walaupun dalam beberapa bagian terlihat agak kedodoran. Yagami Raito digambarkan sebagai sosok yang tampak lebih ’sakit’ dibandingkan film pertamanya. L masih dengan sikap yang sedikit ‘aneh’, namun toh tampak lebih ‘normal’ dibandingkan dengan versi manga-nya.

karakter lain yang juga signifikan adalah Amane Misa yang diperkenalkan sebagai Second KIRA, yang entah kenapa terasa agak terlalu ‘biasa’ dalam film ini. demikian juga Takada Kiyomi dengan peran sebagai Third KIRA yang seharusnya lebih dieksplorasi, terasa lebih sebagai karakter tempelan dalam film ini. oh well… setidaknya film ini adalah panggung saling buru antara L dan Raito, dan dengan demikian karakter lain seolah menjadi kekurangan tempat. meskipun demikian, dalam hal tersebut film ini tidak bisa dikatakan buruk juga, sih.

penggunaan CG untuk menggambarkan karakter para Shinigami dilakukan dengan baik, dan justru menjadi karakter yang paling pas dari segi visualisasi terhadap versi manga-nya. karakter-karakter lain digambarkan lebih sebagai figuran, dengan perbedaan bahwa ada karakter-karakter yang muncul di manga dan tidak tampil dalam film ini. perbedaan karakter yang muncul ini tampaknya diakibatkan oleh jalan cerita yang memang sedikit berbeda dibandingkan versi manga-nya, dan menghasilkan akhir cerita yang berbeda pula.

well, di luar kenyataan bahwa logika di beberapa bagian yang terasa agak kurang pas, toh film ini bisa dinikmati dengan baik. lagipula, tidak ada gunanya juga ‘menggugat’ film ini, karena film ini sempat nongkrong di box-office negara asalnya selama empat minggu berturut-turut, dan menjadi catatan tersendiri dari sebuah film yang diangkat dari serial manga.

meskipun demikian, toh dengan segala catatan tersebut film ini tampil menghibur… walaupun mungkin anda akan perlu sedikit me-’minggir’-kan pikiran anda yang akan menganggap ide film ini sebagai ‘absurd’, sebelum memutuskan untuk mulai menonton.Death Note adalah judul sebuah serial manga Jepang yang ditulis oleh Tsugumi Ohba dan ilustrasi oleh Takeshi Obata. Manga ini menceritakan tentang Light Yagami, seorang siswa jenius yang secara kebetulan menemukan “Death Note” milik shinigami (dewa kematian)

Dalam versi layar lebarnya, Death Note dibagi menjadi dua bagian, yaitu Death Note dan Death Note The Last Name.
Cerita Death Note berawal ketika Light Yagami (Raito Yagami) menemukan sebuah buku yang ternyata milik Shinigami bernama Ryukk (Ryuku). Di dalam Death Note milik Ryuku, terdapat cara menggunakan Death Note yang ditulis olehnya sendiri. Death Note ini kemudian digunakan untuk mewujudkan idealismenya yaitu untuk menciptakan dunia baru yang bersih dari kejahatan, dengan dirinya sebagai Dewa.

Kemudian Death Note ini dia gunakan untuk membunuh para kriminal. Mendapatkan data para kriminal dari televisi maupun mencuri data kepolisian pusat (ayahnya, Shouichiro Yagami adalah seorang polisi). Ternyata tindakannya ini mengundang berbagai reaksi, baik dari masyarakat, para petinggi Jepang, bahkan dari para petinggi internasional. Kebanyakan masyarakat setuju dengan tindakan pembersihan dunia itu, namun para petinggi tidak menyetujuinya karena tindakan tersebut bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Tidak hanya itu hambatan yang ditemui Raito (yang dijuluki Kira, sebutan untuk Killer dalam dialek Jepang) untuk mewujudkan dunia yang bersih, dia juga harus berhadapan dengan L yang selanjutnya dikenal dengan nama Ryuzaki (nama aslinya sampai akhir cerita tidak diketahui). L adalah seorang detektif profesional muda bertaraf internasional yang hanya bergerak di belakang layar. Setelah bertemu L, jalan cerita “Death Note” menjadi semakin menarik (ditambah dengan munculnya Kira II dan Kira III dalam versi manganya).

Dalam versi layar lebarnya, tokoh Raito Yagami diperankan oleh aktor muda Tatsuya Fujiwara, sedangkan tokoh L diperankan oleh Kenichi Matsuyama.

Cerita berawal dari Light Yagami (Raito Yagami), yang menmukan sebuah buku milik Shinigami bernama Ryuk, di dalam DEATH NOTE milik Ryuk terdapat “HOW TO USE” yaitu cara memakai buku tersebu, dimana buku tersebut dapat membunuh orang lain dengan menuliskan namanya pada buku tersebut. DEATH NOTE ini kemudian digunakan untuk mewujudkan idealismenya yaitu untuk menciptakan dunia yang bersih dari kejahatan, dengan dirinya sebagai dewa kematian.