Senin, 26 Maret 2012


Dunia Wayang dan Politik : POLITIK DALAM PERGELARAN WAYANG

tugas yg dikasih Pak Eddy di DaDaIBu ( Dasar-dasar Ilmu Budaya), bikin paper ttg dunia wayang dan politik.. ini hasilnya. lay outnya agak berubah sih, trus juga ada bagian yg dipotong dikit, soalnya kepanjangan.. hehehehe :D yah, pokoknya inilah hasil kerja dari jam 8 malam sampe jam 3 pagi!! BAGI PARA PEMBACA, aku sangat ngarep kritik dan saran YANG MEMBANGUN yah… :D 
BAB I
PENDAHULUAN
I.Latar Belakang
A. Pengertian Wayang
Wayang merupakan sebuah kata yang sulit diterjemahkan. Wayang dapat berarti bayangan’ atau ‘gambar’ atau ‘citraan’. Wayang melukiskan manusia, binatang, atau raksasa, dan tokoh berbudi halus, kuat dan lucu. Setiap tokoh yang menonjol dalam kisah pewayangan memiliki ragam atau wanda. Wanda adalah penggambaran watak untuk megungkapkan perasaan dan keadaan tertentu. Wanda dapat dilihat dari ‘tundukan’ kepala, badan, lekukan mata dan mulut, jarak antara mata dan alis, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.
B. Sejarah Singkat Wayang Kulit Gaya Yogyakarta
Untuk melacak sejarah tentang tatahan wayang kulit, karya-karya sastralah yang harus dipelajari. Pada masa pemerintahan Raja Erlangga, Empu Kanwa telah menghasilkan sebuah karya sastra berupa buku atau serat yang berjudul Harjuna Wiwaha. Dalam salah satu bait dalam serat tersebut disebutkan kata walulang inukir. Walulang artinya kulit binatang, sedangkan inukir berarti diukir atau ditatah. Berdasar informasi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu telah dikenal kulit yang diukir yang disebut ringgit yang pengertiannya sama dengan wayang.
Hingga masa Majapahit berakhir belum ditemukan sumber informasi yang menerangkan tentang sejarah tatah wayang kulit. Namun pada zaman Madya, yaitu masa di mana agama Islam mulai berpengaruh di Jawa, ada beberapa sumber yang berkaitan dengan masalah wayang kulit. Pada masa tersebut wayang telah dibuat dari bahan utama kulit kerbau, sedangkan bahan pewarna putih dan pekatnya dibuat dari tulang binatang tersebut.
Wayang pada zaman Majapahit hanya digambar di atas kertas atau kain lalu diberi warna, setelah mengalami perubahan dalam penggunaan bahan tentunya perubahan tersebut diiringi dengan perubahan teknik yang sesuai dengan bahan yang digunakan. Teknik menatah wayang kulit diduga sebagai hasil adopsi dari teknik mengukir kayu. Pada masa kerajaan Demak wayang kulit digambar miring dan dibuat irisan ( tangan menjadi satu dengan badan). Pada masa kerajaan Pajang wayang kulit disempurnakan dengan menambah berbagai busana dan penambahan tokoh binatang hutan. Saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang, wayang kulit digapit dengan baik, dibuat senjata seperti panah, keris dan senjata tajam lainnya. Pada masa itu mulai dibuat tokoh dagelan. Pada waktu Mataram di Kartasura, wayang kulit disempurnakan lagi dengan memakai punakawan Bagong, para dewa memakai selendang, sepatu dan sebagainya. Sejak saat itu wayang kulit terus disempurnakan hingga menjadi wayang kulit seperti yang ada sekarang.
C.Jenis Wayang
Ada beberapa jenis wayang yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia akan tetapi karena keterbatasan tempat, dalam makalah ini Penulis hanya akan membahas tentang Wayang Purwa Jawa dan Wayang Gubahan Baru.
1.Wayang Purwa Jawa
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan wayang kulit terkenal di Jawa yang dalam usianya yang sangat tua mampu bertahan dalam perjalanan waktu, menyesuaikan dengan ide dan kebutuhan zaman. Wayang Purwa memiliki banyak fungsi, antara lain :
(dulu) sebagai alat pemujaan nenek moyang
alat pengajaran keagamaan
alat pendidikan dan penerangan
alat penanaman tolak ukuran moral
sumber hiburan, dll.
Wayang kulit purwa merupakan boneka datar dwimatra yang terbuat dari kulit kerbau yang kemudian diukir secara rumit dan diwarnai, serta dilengkapi tangkai penyangga di tengah dan gagang dari tanduk kerbau untuk memainkannya. Seperangkat wayang purwa dapat terdiri atas 150 hingga 300 boneka yang menggambarkan dewa, manusia, raksasa, satwa dan lambang alam yang disimpan dalam kotak.
Bayangan digerakkan di kelir ( layar ) berwarna putih dengan bingkai merah atau hitam. Sebuah gedebog pisang direbahkan di dasar kelir untuk menancapkan wayang. Sebuah blencong ( lampu minyak ) digantung di atas dalang. Pengiring berupa gamelan Jawa yang ditambah dengan penekanan keprak ( penanda yang dibunyikan dengan pemukul kayu cempaka). Gedebog pisang juga diletakkan di sisi kanan dan kiri layar untuk menancapkan susunan wayang yang tidak dipakai dalam pertunjukan. Susunan wayang tersebut disebut simpingan dan berfungsi sebagai hiasan tambahan.
Pementasan wayang biasa diadakan dalam berbagai acara keluarga dan sosial. Wayang juga dipentaskan pada upacara adat dalam hubungan kebatinan – keagamaan seperti ruwatan, nadaran, dan bersih desa. Pertunjukan wayang juga sering digelar untuk acara pemerintah atau lembaga sosial untuk menyampaikan pesan atau penerangan, juga untuk menyampaikan pesan pembangunan nasional.
2.Wayang Gubahan Baru
Beberapa jenis wayang gubahan baru yang diterima dengan baik di kalangan masyarakat dan berhubungan dengan pemerintahan dan keadaan sosial, yaitu :
a. Wayang Suluh
Pada tahun 1950 genre baru ini digunakan oleh Departemen Penerangan untuk menyebarkan penerangan pemerintah. Seiring dengan waktu, jenis wayang ini berkembang menjadi teater rakyat berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Boneka wayang suluh terbuat dari kulit kerbau atau sapi, sedangkan tokoh-tokoh diperlihatkan dalam raut wajah. Boneka-boneka menggambarkan laki-laki dan perempuan modern yang mengenakan pakaian sehari-hari, tergantung tokoh yang digambarkan.Pementasan wayang suluh biasanya menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa pergerakan nasional Indonesia.
b. Wayang Revolusi
Pada masa revolusi ( 1945 – 1949 ) pemerintah nasional Indonesia menggunakan wayang sebagai sarana penerangan sebab pada masa itu alat-alat penerangan seperti radio dan koran dikuasai oleh Belanda. Boneka dalam wayang revolusi menggambarkan berbagai tokoh kontemporer, seperti Soekarno, Nehru, para pejuang, Belanda, dan rakyat. Cerita yang disuguhkan dalam pertunjukan wayang revolusi diambil dari kejadian nyata yang terjadi pada masa itu. Sayangnya wayang revolusi tidak lagi terkenal setelah berakhirnya masa revolusi.
II.Tujuan
Tujuan ditulisnya makalah ini antara lain untuk :
1.Mengetahui ada atau tidaknya hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik.
2.Dapat mengidentifikasi hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik, jika memang dua hal tersebut ada kaitannya.
3.Memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya dengan dosen pengajar Eddy Pursubayanto, Drs., Dipl. Tesl., M. Hum sebagai pengganti nilai Ujian Tengah Semester I tahun 2007 / 2008
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Dalam bagian rumusan masalah ini Penulis mengungkapkan beberapa pertanyaan mengenai hubungan atara wayang dan politik.
1.Adakah unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan? Jelaskan!
2.Apakah kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia?
3.Dapatkah pergelaran wayang dimanfaatkan untuk kepentingan politik?
4.Bagaimanakah pemanfaatan pergelaran wayang untuk kehidupan politik di negara kita?
5.Apakah semua dalang dapat menggunakan pergelaran wayang sebagai alat politik?
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam bagian pembahasan ini, Penulis akan menjawab masalah-masalah yang ada pada bab sebelumnya berdasarkan pada buku referensi dan hasil wawancara yang telah dilakukan.
1.Untuk menjawab pertanyaan pertama, Penulis mencoba membuat analisa sebagai berikut :
Suasana politik sangat jelas terasa dalam kisa-kisah pewayangan klasik seperti kisah Mahabharata dan Ramayana mengingat latar belakang dan setting kedua cerita tersebut adalah setting kerajaan. Isi cerita dalam kisah-kisah pewayangan itu pun sangat erat hubungannya dengan politik kerajaan seperti perebutan kekuasaan, perluasan daerah kekuasaan, jalannya pemerintahan, hingga konflik-konflik politik yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perangkat politik kerajaan dari rakyat, ajudan, prajurit, hingga menteri dan raja pun dapat ditemui dalam kisah-kisah pewayangan klasik.
Dalam jenis-jenis wayang gubahan baru yang masih bercerita mengenai kehidupan bernegara juga dapat dirasakan suasana politik yang kental. Perbedaannya dengan kisah pewayangan klasik adalah dalam seri pewayangan kontemporer, kehidupan politik yang diangkat sebagai cerita bukanlah politik kerajaan melainkan politik kenegaraan berbentuk republik yang sesuai dengan keadaan dalam kehidupan nyata. Konflik, kritikan, dan perangkat politik negara merupakan sumber cerita jenis wayang gubahan baru seperti jenis Wayang Revolusi dan Wayang Suluh.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa keberadaan unsur-unsur politik dalam kisah pewayangan tidak perlu diragukan lagi.
2.Salah satu jenis wayang gubahan baru yang diciptakan sesudah kemerdekaan oleh Harsono Hadisoeseno, dalang dan pernah menjabat sebagai pimpinan dinas penerangan pemerintah adalah Wayang Pancasila. Dalam Wayang Pancasila, Pandawa Lima, tokoh utama dalam cerita Mahabharata dijadikan lambang dari lima sidal dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.
Sebuah jenis wayang gubahan baru lain yaitu Wayang Revolusi dimanfaatkan sebagai sarana perlawanan politik terhadap Belanda yang dilakukan secara halus pada masa revolusi melalui cerita-ceritanya. Kedua jenis wayang gubahan baru di atas merupakan contoh-contoh bukti adanya kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia.
3.Seperti yang kita tahu, masyarakat kita masih familier dengan kebudayaan tradisional mereka masing-masing. Wayang, khususnya di Jawa, termasuk salah satu jenis kebudayaan tradisional yang sangat populer dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan kisah yang tidak asing lagi dan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat di sekitarnya, sebuah pergelaran wayang sangat berpotensi untuk menarik penonton. Para penonton pergelaran wayang biasanya akan mengingat pergelaran wayang yang mereka saksikan, mungkin membanding-bandingkannya dengan pergelaran wayang lain yang pernah mereka saksikan, bahkan membicarakan isi pergelaran wayang dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini menyebabkan kemudahan dalam menyampaikan pesan terselubung dalam suatu kisah yang disajikan dalam sebuah pergelaran wayang kepada para penontonnya. Pesan terselubung tersebut kadang-kadang merupakan pesan-pesan politik dari pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat, maupun sebaliknya.
4.Mengingat mudahnya proses transfer informasi melalui pergelaran wayang, pemanfaatan pergelaran wayang yang kemungkinan besar dilakukan untuk kepentingan kehidupan politik negara kita antara lain :
a. Penyampaian dari rakyat ke pemerintah maupun dari pemerintah ke rakyat mengenai kehidupan politik negara secara halus
b. Sebagai sarana kritik sosial politik yang ditujukan untuk pemerintah
c. Sarana partai politik untuk menyiarkan pendapat, anjuran,dan saran guna mengumpulkan pengikut bagi partai politik tersebut (propaganda).
5.Untuk dapat mengemukakan suatu masalah, seseorang harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang masalah tersebut. Pengetahuan dan wawasan dapat diperoleh dari pengalaman, penelitian, observasi, maupun pengamatan. Begitu juga dengan dalang-dalang yang akan mengangkat masalah politik ke dalam pergelaran wayangnya. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan sembarangan mengingat masalah politik merupakan masalah yang sangat sensitif. Karena kesensitifannya tersebut, tidak semua dalang dapat dengan begitu saja memasukkan pesan-pesan politik ke dalam cerita wayang yang akan ditampilkan. Dalang-dalang yang berniat menggunakan pergelaran wayangnya sebagai alat politik harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah politik dan dapat menyampaikan pesan politik yang terkandung dalam pergelarannya secara halus sehingga tidak akan menyinggung pihak manapun.
BAB IV
KESIMPULAN
Melihat masalah yang muncul dan pembahasan yang mengikutinya, Penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain :
1.Unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan, baik pewayangan klasik maupun kontemporer, sangat jelas adanya.
2.Kisah pewayangan dengan kehidupan politik negara Indonesia sangat erat kaitannya, dibuktikan dengan beberapa unsur dalam dua jenis wayang gubahan baru, yaitu Wayang Pancasila dan Wayang Revolusi.
3.Melalui pergelaran wayang, dalang dapat menyampaikan berbagai informasi dengan mudah kepada para penontonnya. Salah satu pesan yang dapat dengan mudah disalurkan melalui pergelaran wayang adalah pesan politik.
4.Pergelaran wayang dimanfaatkan dalam beberapa aspek kehidupan politik, antara lain sebagai :
a. alat komunikasi politik
b. sarana propaganda partai politik
c. sarana penyampaian kritik sosial politik
5.Tidak semua dalang dapat mengangkat masalah politik dalam pergelaran wayangnya. Untuk melakukannya, seorang dalang harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang politik dan kecakapan dalam menyampaikan maksud secara halus agar tidak menyinggung pihak manapun.
BAB V
KEPUSTAKAAN
Djatikusuma & Judi Achjadi
“New Forms of Wayang”, in Performing Arts. (A series in Indonesian Heritage). Edited by Edi Sedyawati et al. Singapore : Archipelago Press. 1998.
Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jilid 3 [KLMNP].
Jakarta : Senawangi [Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia], 1999.
Sunarto & Sagio
“Wayang Kulit Gaya Yogyakarta : Bentuk dan Ceritanya”. Yogyakarta : Pemprop D.I.Y. Kantor Perwakilan D.I.Y. 2004.
Wawancara :
1.Ki Suharno, S.Sn.

0 komentar:

Posting Komentar