Senin, 26 Maret 2012
00.04
No comments
Dunia Wayang dan Politik : POLITIK DALAM PERGELARAN WAYANG
tugas yg dikasih Pak Eddy di DaDaIBu ( Dasar-dasar Ilmu Budaya), bikin paper ttg dunia wayang dan politik.. ini hasilnya. lay outnya agak berubah sih, trus juga ada bagian yg dipotong dikit, soalnya kepanjangan.. hehehehe
yah, pokoknya inilah hasil kerja dari jam 8 malam sampe jam 3 pagi!! BAGI PARA PEMBACA, aku sangat ngarep kritik dan saran YANG MEMBANGUN yah…
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
I.Latar Belakang
A. Pengertian Wayang
Wayang merupakan sebuah kata yang sulit diterjemahkan. Wayang dapat berarti bayangan’ atau ‘gambar’ atau ‘citraan’. Wayang melukiskan manusia, binatang, atau raksasa, dan tokoh berbudi halus, kuat dan lucu. Setiap tokoh yang menonjol dalam kisah pewayangan memiliki ragam atau wanda. Wanda adalah penggambaran watak untuk megungkapkan perasaan dan keadaan tertentu. Wanda dapat dilihat dari ‘tundukan’ kepala, badan, lekukan mata dan mulut, jarak antara mata dan alis, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.
Wayang merupakan sebuah kata yang sulit diterjemahkan. Wayang dapat berarti bayangan’ atau ‘gambar’ atau ‘citraan’. Wayang melukiskan manusia, binatang, atau raksasa, dan tokoh berbudi halus, kuat dan lucu. Setiap tokoh yang menonjol dalam kisah pewayangan memiliki ragam atau wanda. Wanda adalah penggambaran watak untuk megungkapkan perasaan dan keadaan tertentu. Wanda dapat dilihat dari ‘tundukan’ kepala, badan, lekukan mata dan mulut, jarak antara mata dan alis, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.
B. Sejarah Singkat Wayang Kulit Gaya Yogyakarta
Untuk melacak sejarah tentang tatahan wayang kulit, karya-karya sastralah yang harus dipelajari. Pada masa pemerintahan Raja Erlangga, Empu Kanwa telah menghasilkan sebuah karya sastra berupa buku atau serat yang berjudul Harjuna Wiwaha. Dalam salah satu bait dalam serat tersebut disebutkan kata walulang inukir. Walulang artinya kulit binatang, sedangkan inukir berarti diukir atau ditatah. Berdasar informasi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu telah dikenal kulit yang diukir yang disebut ringgit yang pengertiannya sama dengan wayang.
Hingga masa Majapahit berakhir belum ditemukan sumber informasi yang menerangkan tentang sejarah tatah wayang kulit. Namun pada zaman Madya, yaitu masa di mana agama Islam mulai berpengaruh di Jawa, ada beberapa sumber yang berkaitan dengan masalah wayang kulit. Pada masa tersebut wayang telah dibuat dari bahan utama kulit kerbau, sedangkan bahan pewarna putih dan pekatnya dibuat dari tulang binatang tersebut.
Wayang pada zaman Majapahit hanya digambar di atas kertas atau kain lalu diberi warna, setelah mengalami perubahan dalam penggunaan bahan tentunya perubahan tersebut diiringi dengan perubahan teknik yang sesuai dengan bahan yang digunakan. Teknik menatah wayang kulit diduga sebagai hasil adopsi dari teknik mengukir kayu. Pada masa kerajaan Demak wayang kulit digambar miring dan dibuat irisan ( tangan menjadi satu dengan badan). Pada masa kerajaan Pajang wayang kulit disempurnakan dengan menambah berbagai busana dan penambahan tokoh binatang hutan. Saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang, wayang kulit digapit dengan baik, dibuat senjata seperti panah, keris dan senjata tajam lainnya. Pada masa itu mulai dibuat tokoh dagelan. Pada waktu Mataram di Kartasura, wayang kulit disempurnakan lagi dengan memakai punakawan Bagong, para dewa memakai selendang, sepatu dan sebagainya. Sejak saat itu wayang kulit terus disempurnakan hingga menjadi wayang kulit seperti yang ada sekarang.
Untuk melacak sejarah tentang tatahan wayang kulit, karya-karya sastralah yang harus dipelajari. Pada masa pemerintahan Raja Erlangga, Empu Kanwa telah menghasilkan sebuah karya sastra berupa buku atau serat yang berjudul Harjuna Wiwaha. Dalam salah satu bait dalam serat tersebut disebutkan kata walulang inukir. Walulang artinya kulit binatang, sedangkan inukir berarti diukir atau ditatah. Berdasar informasi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu telah dikenal kulit yang diukir yang disebut ringgit yang pengertiannya sama dengan wayang.
Hingga masa Majapahit berakhir belum ditemukan sumber informasi yang menerangkan tentang sejarah tatah wayang kulit. Namun pada zaman Madya, yaitu masa di mana agama Islam mulai berpengaruh di Jawa, ada beberapa sumber yang berkaitan dengan masalah wayang kulit. Pada masa tersebut wayang telah dibuat dari bahan utama kulit kerbau, sedangkan bahan pewarna putih dan pekatnya dibuat dari tulang binatang tersebut.
Wayang pada zaman Majapahit hanya digambar di atas kertas atau kain lalu diberi warna, setelah mengalami perubahan dalam penggunaan bahan tentunya perubahan tersebut diiringi dengan perubahan teknik yang sesuai dengan bahan yang digunakan. Teknik menatah wayang kulit diduga sebagai hasil adopsi dari teknik mengukir kayu. Pada masa kerajaan Demak wayang kulit digambar miring dan dibuat irisan ( tangan menjadi satu dengan badan). Pada masa kerajaan Pajang wayang kulit disempurnakan dengan menambah berbagai busana dan penambahan tokoh binatang hutan. Saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang, wayang kulit digapit dengan baik, dibuat senjata seperti panah, keris dan senjata tajam lainnya. Pada masa itu mulai dibuat tokoh dagelan. Pada waktu Mataram di Kartasura, wayang kulit disempurnakan lagi dengan memakai punakawan Bagong, para dewa memakai selendang, sepatu dan sebagainya. Sejak saat itu wayang kulit terus disempurnakan hingga menjadi wayang kulit seperti yang ada sekarang.
C.Jenis Wayang
Ada beberapa jenis wayang yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia akan tetapi karena keterbatasan tempat, dalam makalah ini Penulis hanya akan membahas tentang Wayang Purwa Jawa dan Wayang Gubahan Baru.
1.Wayang Purwa Jawa
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan wayang kulit terkenal di Jawa yang dalam usianya yang sangat tua mampu bertahan dalam perjalanan waktu, menyesuaikan dengan ide dan kebutuhan zaman. Wayang Purwa memiliki banyak fungsi, antara lain :
(dulu) sebagai alat pemujaan nenek moyang
alat pengajaran keagamaan
alat pendidikan dan penerangan
alat penanaman tolak ukuran moral
sumber hiburan, dll.
Wayang kulit purwa merupakan boneka datar dwimatra yang terbuat dari kulit kerbau yang kemudian diukir secara rumit dan diwarnai, serta dilengkapi tangkai penyangga di tengah dan gagang dari tanduk kerbau untuk memainkannya. Seperangkat wayang purwa dapat terdiri atas 150 hingga 300 boneka yang menggambarkan dewa, manusia, raksasa, satwa dan lambang alam yang disimpan dalam kotak.
Bayangan digerakkan di kelir ( layar ) berwarna putih dengan bingkai merah atau hitam. Sebuah gedebog pisang direbahkan di dasar kelir untuk menancapkan wayang. Sebuah blencong ( lampu minyak ) digantung di atas dalang. Pengiring berupa gamelan Jawa yang ditambah dengan penekanan keprak ( penanda yang dibunyikan dengan pemukul kayu cempaka). Gedebog pisang juga diletakkan di sisi kanan dan kiri layar untuk menancapkan susunan wayang yang tidak dipakai dalam pertunjukan. Susunan wayang tersebut disebut simpingan dan berfungsi sebagai hiasan tambahan.
Pementasan wayang biasa diadakan dalam berbagai acara keluarga dan sosial. Wayang juga dipentaskan pada upacara adat dalam hubungan kebatinan – keagamaan seperti ruwatan, nadaran, dan bersih desa. Pertunjukan wayang juga sering digelar untuk acara pemerintah atau lembaga sosial untuk menyampaikan pesan atau penerangan, juga untuk menyampaikan pesan pembangunan nasional.
2.Wayang Gubahan Baru
Beberapa jenis wayang gubahan baru yang diterima dengan baik di kalangan masyarakat dan berhubungan dengan pemerintahan dan keadaan sosial, yaitu :
a. Wayang Suluh
Pada tahun 1950 genre baru ini digunakan oleh Departemen Penerangan untuk menyebarkan penerangan pemerintah. Seiring dengan waktu, jenis wayang ini berkembang menjadi teater rakyat berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Boneka wayang suluh terbuat dari kulit kerbau atau sapi, sedangkan tokoh-tokoh diperlihatkan dalam raut wajah. Boneka-boneka menggambarkan laki-laki dan perempuan modern yang mengenakan pakaian sehari-hari, tergantung tokoh yang digambarkan.Pementasan wayang suluh biasanya menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa pergerakan nasional Indonesia.
b. Wayang Revolusi
Pada masa revolusi ( 1945 – 1949 ) pemerintah nasional Indonesia menggunakan wayang sebagai sarana penerangan sebab pada masa itu alat-alat penerangan seperti radio dan koran dikuasai oleh Belanda. Boneka dalam wayang revolusi menggambarkan berbagai tokoh kontemporer, seperti Soekarno, Nehru, para pejuang, Belanda, dan rakyat. Cerita yang disuguhkan dalam pertunjukan wayang revolusi diambil dari kejadian nyata yang terjadi pada masa itu. Sayangnya wayang revolusi tidak lagi terkenal setelah berakhirnya masa revolusi.
Ada beberapa jenis wayang yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia akan tetapi karena keterbatasan tempat, dalam makalah ini Penulis hanya akan membahas tentang Wayang Purwa Jawa dan Wayang Gubahan Baru.
1.Wayang Purwa Jawa
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan wayang kulit terkenal di Jawa yang dalam usianya yang sangat tua mampu bertahan dalam perjalanan waktu, menyesuaikan dengan ide dan kebutuhan zaman. Wayang Purwa memiliki banyak fungsi, antara lain :
(dulu) sebagai alat pemujaan nenek moyang
alat pengajaran keagamaan
alat pendidikan dan penerangan
alat penanaman tolak ukuran moral
sumber hiburan, dll.
Wayang kulit purwa merupakan boneka datar dwimatra yang terbuat dari kulit kerbau yang kemudian diukir secara rumit dan diwarnai, serta dilengkapi tangkai penyangga di tengah dan gagang dari tanduk kerbau untuk memainkannya. Seperangkat wayang purwa dapat terdiri atas 150 hingga 300 boneka yang menggambarkan dewa, manusia, raksasa, satwa dan lambang alam yang disimpan dalam kotak.
Bayangan digerakkan di kelir ( layar ) berwarna putih dengan bingkai merah atau hitam. Sebuah gedebog pisang direbahkan di dasar kelir untuk menancapkan wayang. Sebuah blencong ( lampu minyak ) digantung di atas dalang. Pengiring berupa gamelan Jawa yang ditambah dengan penekanan keprak ( penanda yang dibunyikan dengan pemukul kayu cempaka). Gedebog pisang juga diletakkan di sisi kanan dan kiri layar untuk menancapkan susunan wayang yang tidak dipakai dalam pertunjukan. Susunan wayang tersebut disebut simpingan dan berfungsi sebagai hiasan tambahan.
Pementasan wayang biasa diadakan dalam berbagai acara keluarga dan sosial. Wayang juga dipentaskan pada upacara adat dalam hubungan kebatinan – keagamaan seperti ruwatan, nadaran, dan bersih desa. Pertunjukan wayang juga sering digelar untuk acara pemerintah atau lembaga sosial untuk menyampaikan pesan atau penerangan, juga untuk menyampaikan pesan pembangunan nasional.
2.Wayang Gubahan Baru
Beberapa jenis wayang gubahan baru yang diterima dengan baik di kalangan masyarakat dan berhubungan dengan pemerintahan dan keadaan sosial, yaitu :
a. Wayang Suluh
Pada tahun 1950 genre baru ini digunakan oleh Departemen Penerangan untuk menyebarkan penerangan pemerintah. Seiring dengan waktu, jenis wayang ini berkembang menjadi teater rakyat berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Boneka wayang suluh terbuat dari kulit kerbau atau sapi, sedangkan tokoh-tokoh diperlihatkan dalam raut wajah. Boneka-boneka menggambarkan laki-laki dan perempuan modern yang mengenakan pakaian sehari-hari, tergantung tokoh yang digambarkan.Pementasan wayang suluh biasanya menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa pergerakan nasional Indonesia.
b. Wayang Revolusi
Pada masa revolusi ( 1945 – 1949 ) pemerintah nasional Indonesia menggunakan wayang sebagai sarana penerangan sebab pada masa itu alat-alat penerangan seperti radio dan koran dikuasai oleh Belanda. Boneka dalam wayang revolusi menggambarkan berbagai tokoh kontemporer, seperti Soekarno, Nehru, para pejuang, Belanda, dan rakyat. Cerita yang disuguhkan dalam pertunjukan wayang revolusi diambil dari kejadian nyata yang terjadi pada masa itu. Sayangnya wayang revolusi tidak lagi terkenal setelah berakhirnya masa revolusi.
II.Tujuan
Tujuan ditulisnya makalah ini antara lain untuk :
1.Mengetahui ada atau tidaknya hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik.
2.Dapat mengidentifikasi hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik, jika memang dua hal tersebut ada kaitannya.
3.Memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya dengan dosen pengajar Eddy Pursubayanto, Drs., Dipl. Tesl., M. Hum sebagai pengganti nilai Ujian Tengah Semester I tahun 2007 / 2008
Tujuan ditulisnya makalah ini antara lain untuk :
1.Mengetahui ada atau tidaknya hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik.
2.Dapat mengidentifikasi hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik, jika memang dua hal tersebut ada kaitannya.
3.Memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya dengan dosen pengajar Eddy Pursubayanto, Drs., Dipl. Tesl., M. Hum sebagai pengganti nilai Ujian Tengah Semester I tahun 2007 / 2008
BAB II
RUMUSAN MASALAH
RUMUSAN MASALAH
Dalam bagian rumusan masalah ini Penulis mengungkapkan beberapa pertanyaan mengenai hubungan atara wayang dan politik.
1.Adakah unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan? Jelaskan!
2.Apakah kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia?
3.Dapatkah pergelaran wayang dimanfaatkan untuk kepentingan politik?
4.Bagaimanakah pemanfaatan pergelaran wayang untuk kehidupan politik di negara kita?
5.Apakah semua dalang dapat menggunakan pergelaran wayang sebagai alat politik?
1.Adakah unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan? Jelaskan!
2.Apakah kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia?
3.Dapatkah pergelaran wayang dimanfaatkan untuk kepentingan politik?
4.Bagaimanakah pemanfaatan pergelaran wayang untuk kehidupan politik di negara kita?
5.Apakah semua dalang dapat menggunakan pergelaran wayang sebagai alat politik?
BAB III
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Dalam bagian pembahasan ini, Penulis akan menjawab masalah-masalah yang ada pada bab sebelumnya berdasarkan pada buku referensi dan hasil wawancara yang telah dilakukan.
1.Untuk menjawab pertanyaan pertama, Penulis mencoba membuat analisa sebagai berikut :
Suasana politik sangat jelas terasa dalam kisa-kisah pewayangan klasik seperti kisah Mahabharata dan Ramayana mengingat latar belakang dan setting kedua cerita tersebut adalah setting kerajaan. Isi cerita dalam kisah-kisah pewayangan itu pun sangat erat hubungannya dengan politik kerajaan seperti perebutan kekuasaan, perluasan daerah kekuasaan, jalannya pemerintahan, hingga konflik-konflik politik yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perangkat politik kerajaan dari rakyat, ajudan, prajurit, hingga menteri dan raja pun dapat ditemui dalam kisah-kisah pewayangan klasik.
Dalam jenis-jenis wayang gubahan baru yang masih bercerita mengenai kehidupan bernegara juga dapat dirasakan suasana politik yang kental. Perbedaannya dengan kisah pewayangan klasik adalah dalam seri pewayangan kontemporer, kehidupan politik yang diangkat sebagai cerita bukanlah politik kerajaan melainkan politik kenegaraan berbentuk republik yang sesuai dengan keadaan dalam kehidupan nyata. Konflik, kritikan, dan perangkat politik negara merupakan sumber cerita jenis wayang gubahan baru seperti jenis Wayang Revolusi dan Wayang Suluh.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa keberadaan unsur-unsur politik dalam kisah pewayangan tidak perlu diragukan lagi.
Suasana politik sangat jelas terasa dalam kisa-kisah pewayangan klasik seperti kisah Mahabharata dan Ramayana mengingat latar belakang dan setting kedua cerita tersebut adalah setting kerajaan. Isi cerita dalam kisah-kisah pewayangan itu pun sangat erat hubungannya dengan politik kerajaan seperti perebutan kekuasaan, perluasan daerah kekuasaan, jalannya pemerintahan, hingga konflik-konflik politik yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perangkat politik kerajaan dari rakyat, ajudan, prajurit, hingga menteri dan raja pun dapat ditemui dalam kisah-kisah pewayangan klasik.
Dalam jenis-jenis wayang gubahan baru yang masih bercerita mengenai kehidupan bernegara juga dapat dirasakan suasana politik yang kental. Perbedaannya dengan kisah pewayangan klasik adalah dalam seri pewayangan kontemporer, kehidupan politik yang diangkat sebagai cerita bukanlah politik kerajaan melainkan politik kenegaraan berbentuk republik yang sesuai dengan keadaan dalam kehidupan nyata. Konflik, kritikan, dan perangkat politik negara merupakan sumber cerita jenis wayang gubahan baru seperti jenis Wayang Revolusi dan Wayang Suluh.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa keberadaan unsur-unsur politik dalam kisah pewayangan tidak perlu diragukan lagi.
2.Salah satu jenis wayang gubahan baru yang diciptakan sesudah kemerdekaan oleh Harsono Hadisoeseno, dalang dan pernah menjabat sebagai pimpinan dinas penerangan pemerintah adalah Wayang Pancasila. Dalam Wayang Pancasila, Pandawa Lima, tokoh utama dalam cerita Mahabharata dijadikan lambang dari lima sidal dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.
Sebuah jenis wayang gubahan baru lain yaitu Wayang Revolusi dimanfaatkan sebagai sarana perlawanan politik terhadap Belanda yang dilakukan secara halus pada masa revolusi melalui cerita-ceritanya. Kedua jenis wayang gubahan baru di atas merupakan contoh-contoh bukti adanya kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia.
Sebuah jenis wayang gubahan baru lain yaitu Wayang Revolusi dimanfaatkan sebagai sarana perlawanan politik terhadap Belanda yang dilakukan secara halus pada masa revolusi melalui cerita-ceritanya. Kedua jenis wayang gubahan baru di atas merupakan contoh-contoh bukti adanya kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia.
3.Seperti yang kita tahu, masyarakat kita masih familier dengan kebudayaan tradisional mereka masing-masing. Wayang, khususnya di Jawa, termasuk salah satu jenis kebudayaan tradisional yang sangat populer dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan kisah yang tidak asing lagi dan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat di sekitarnya, sebuah pergelaran wayang sangat berpotensi untuk menarik penonton. Para penonton pergelaran wayang biasanya akan mengingat pergelaran wayang yang mereka saksikan, mungkin membanding-bandingkannya dengan pergelaran wayang lain yang pernah mereka saksikan, bahkan membicarakan isi pergelaran wayang dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini menyebabkan kemudahan dalam menyampaikan pesan terselubung dalam suatu kisah yang disajikan dalam sebuah pergelaran wayang kepada para penontonnya. Pesan terselubung tersebut kadang-kadang merupakan pesan-pesan politik dari pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat, maupun sebaliknya.
4.Mengingat mudahnya proses transfer informasi melalui pergelaran wayang, pemanfaatan pergelaran wayang yang kemungkinan besar dilakukan untuk kepentingan kehidupan politik negara kita antara lain :
a. Penyampaian dari rakyat ke pemerintah maupun dari pemerintah ke rakyat mengenai kehidupan politik negara secara halus
b. Sebagai sarana kritik sosial politik yang ditujukan untuk pemerintah
c. Sarana partai politik untuk menyiarkan pendapat, anjuran,dan saran guna mengumpulkan pengikut bagi partai politik tersebut (propaganda).
a. Penyampaian dari rakyat ke pemerintah maupun dari pemerintah ke rakyat mengenai kehidupan politik negara secara halus
b. Sebagai sarana kritik sosial politik yang ditujukan untuk pemerintah
c. Sarana partai politik untuk menyiarkan pendapat, anjuran,dan saran guna mengumpulkan pengikut bagi partai politik tersebut (propaganda).
5.Untuk dapat mengemukakan suatu masalah, seseorang harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang masalah tersebut. Pengetahuan dan wawasan dapat diperoleh dari pengalaman, penelitian, observasi, maupun pengamatan. Begitu juga dengan dalang-dalang yang akan mengangkat masalah politik ke dalam pergelaran wayangnya. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan sembarangan mengingat masalah politik merupakan masalah yang sangat sensitif. Karena kesensitifannya tersebut, tidak semua dalang dapat dengan begitu saja memasukkan pesan-pesan politik ke dalam cerita wayang yang akan ditampilkan. Dalang-dalang yang berniat menggunakan pergelaran wayangnya sebagai alat politik harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah politik dan dapat menyampaikan pesan politik yang terkandung dalam pergelarannya secara halus sehingga tidak akan menyinggung pihak manapun.
BAB IV
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Melihat masalah yang muncul dan pembahasan yang mengikutinya, Penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain :
1.Unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan, baik pewayangan klasik maupun kontemporer, sangat jelas adanya.
2.Kisah pewayangan dengan kehidupan politik negara Indonesia sangat erat kaitannya, dibuktikan dengan beberapa unsur dalam dua jenis wayang gubahan baru, yaitu Wayang Pancasila dan Wayang Revolusi.
3.Melalui pergelaran wayang, dalang dapat menyampaikan berbagai informasi dengan mudah kepada para penontonnya. Salah satu pesan yang dapat dengan mudah disalurkan melalui pergelaran wayang adalah pesan politik.
4.Pergelaran wayang dimanfaatkan dalam beberapa aspek kehidupan politik, antara lain sebagai :
a. alat komunikasi politik
b. sarana propaganda partai politik
c. sarana penyampaian kritik sosial politik
5.Tidak semua dalang dapat mengangkat masalah politik dalam pergelaran wayangnya. Untuk melakukannya, seorang dalang harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang politik dan kecakapan dalam menyampaikan maksud secara halus agar tidak menyinggung pihak manapun.
1.Unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan, baik pewayangan klasik maupun kontemporer, sangat jelas adanya.
2.Kisah pewayangan dengan kehidupan politik negara Indonesia sangat erat kaitannya, dibuktikan dengan beberapa unsur dalam dua jenis wayang gubahan baru, yaitu Wayang Pancasila dan Wayang Revolusi.
3.Melalui pergelaran wayang, dalang dapat menyampaikan berbagai informasi dengan mudah kepada para penontonnya. Salah satu pesan yang dapat dengan mudah disalurkan melalui pergelaran wayang adalah pesan politik.
4.Pergelaran wayang dimanfaatkan dalam beberapa aspek kehidupan politik, antara lain sebagai :
a. alat komunikasi politik
b. sarana propaganda partai politik
c. sarana penyampaian kritik sosial politik
5.Tidak semua dalang dapat mengangkat masalah politik dalam pergelaran wayangnya. Untuk melakukannya, seorang dalang harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang politik dan kecakapan dalam menyampaikan maksud secara halus agar tidak menyinggung pihak manapun.
BAB V
KEPUSTAKAAN
KEPUSTAKAAN
Djatikusuma & Judi Achjadi
“New Forms of Wayang”, in Performing Arts. (A series in Indonesian Heritage). Edited by Edi Sedyawati et al. Singapore : Archipelago Press. 1998.
“New Forms of Wayang”, in Performing Arts. (A series in Indonesian Heritage). Edited by Edi Sedyawati et al. Singapore : Archipelago Press. 1998.
Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jilid 3 [KLMNP].
Jakarta : Senawangi [Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia], 1999.
Jakarta : Senawangi [Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia], 1999.
Sunarto & Sagio
“Wayang Kulit Gaya Yogyakarta : Bentuk dan Ceritanya”. Yogyakarta : Pemprop D.I.Y. Kantor Perwakilan D.I.Y. 2004.
“Wayang Kulit Gaya Yogyakarta : Bentuk dan Ceritanya”. Yogyakarta : Pemprop D.I.Y. Kantor Perwakilan D.I.Y. 2004.
Wawancara :
1.Ki Suharno, S.Sn.
1.Ki Suharno, S.Sn.
00.01
No comments
Cinta Rahwana hanya untuk Sinta

Ini merupakan obrolan antar sahabat, saat sedang suntuk dan capek bekerja. Topiknya, sudah jelas mempertanyakan, apakah Rahwana itu raja yang jahat atau bukan? Bagi saya dan sejumlah sahabat, ini jelas merupakan dilema yang bisa menyebabkan saya dan beberapa sahabat saya dibenci orang. Sebabnya jelas, kita mencoba melihat Rahwana dari sisi dia sebagai manusia. Sebagian besar dari kita, umumnya melihat Rahwana sebagai tokoh yang jahat. Sedangkan Rama, sebagai orang baik yang dizalimi. Itu pandangan orang pada umumnya. Sedangkan dalam pandangan saya (dan beberapa sahabat saya lainnya), kita bisa bersikap begitu karena kita selalu menerima ‘wejangan’ dari orang tua kita, bahwa Rahwana itu orang jahat dan Rama orang baik. Kita bahkan menerima pandangan itu begitu saja, tanpa pernah mempertanyakan, apa saja kebaikan Rahwana dan apa pula keburukan Rama.

Dalam cerita Ramayana yang lazim disampaikan kepada kita, sesuai dengan pakem pewayangan, diceritakan bahwa Rahwana sangat ingin memperisteri Dewi Sinta. Padahal, Dewi Sinta saat itu sudah menjadi isteri Rama. Untuk itu, ia berupaya memperdaya Rama dan Laksmana, supaya bisa menculik Dewi Sinta. Penculikan itu berhasil sukses! Meskipun selama perjalanan Rahwana diserang oleh Jatayu, tetapi halangan itu bisa diatasinya, dan Dewi Sinta bisa diboyong Rahwana ke Alengkadiraja. Tiga tahun, Dewi Sinta ditawan di sebuah ‘keputren’, ditemani DewiTrijatha, adik Rahwana. Dan selama tiga tahun pula Rahwana selalu berusaha membujuk Dewi Sinta untuk bersedia menjadi permaisurinya. Segala upayanya untuk menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisuri, ditolak oleh Dewi Sinta secara halus. Jadi Rahwana sebenarnya dapat dikatakan gagal memperisteri Dewi Sinta. Bahkan, saat Rahwana agak kelewatan sikapnya, saat sedang membujuk Dewi Sinta, ia dihalangi oleh Dewi Trijatha, adiknya. Tentu saja Rahwana menjadi marah, dan Dewi Trijatha dikutuk oleh Rahwana. Kutukan Rahwana menyatakan, bahwa Dewi Trijatha akan mendapat jodoh jika sudah menjadi ‘perawan tua’ dan jodohnya adalah seorang wanara tua yang bertubuh pendek, jelek, dan buruk muka. Kutukan Rahwana ini, membuat Dewi Trijatha sedih berkepanjangan. Keinginan Rahwana untuk bisa menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisurinya, telah mengorbankan banyak hal, termasuk kekuasaan, keluarga, sanak saudara, dan kerajaan Alengka. Rahwana, akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran melawan Rama yang dibantu ribuan pasukan wanara (kera). Ia merupakan orang terakhir dari Kerajaan Alengka yang mati di medan laga, melawan musuh. itulah ringkasan seluruh cerita tentang Rahwana yang sangat terkenal itu.
Sekarang cobalah kita pahami barang sedikit cerita kebalikannya, ditinjau dari sisi Rahwana. Cobalah untuk mendinginkan kepala dan tidak emosional sewaktu membaca cerita ini. Tentu saja, cerita ini merupakan cerita imajiner, jadi gunakanlah juga imajinasi anda saat membacanya…..
Bayangkalah, Alengkadiraja adalah sebuah negara adidaya, yang terkenal sangat kaya dan makmur. Kerajaan ini, politiknya sangat stabil, keamanan di seluruh wilayah Kerajaan Alengkadiraja sangat terkendali dan sangat aman. Rakyatnya demikian sejahtera, sehingga banyak orang yang berasal dari manca negara, datang dan akhirnya tinggal bermukim di Kerajaan Alengkadiraja. Menurut sejarahnya, Kerajaan Alengkadiraja juga tidak pernah memperlakukan kerajaan-kerajaan di sekitar wilayahnya sebagai negara jajahan. Alengkadiraja juga tidak pernah menyerbu negara lain. Kerajaan Alengkadiraja, memang bukan sebuah negara demokratis seperti Amerika. Kerajaan Alengkadiraja, memang merupakan sebuah negara monarki (kerajaan), yang dipimpin oleh seorang diktator luar biasa besar dan sangat luas kekuasaannya, yang berjuluk Prabu Rahwana. Kerajaan besar ini, bahkan tidak memerlukan adanya Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuat berbagai undang-undang. Segala aturan dan undang-undang, cukup ditangani oleh Rahwana yang dibantu sejumlah pejabat tinggi kepercayaannya. Sejak Kerajaan Alengkadiraja berdiri, sampai akhirnya tumbang oleh serbuan para ‘monyet’ yang membantu Rama, tidak pernah ada berita negatif sedikitpun yang menyatakan bahwa Rahwana pernah berbuat menzalimi rakyatnya. Begitu juga para pejabat tingginya, selalu mempunyai ‘track record’ yang baik dan tidak tercela. Bagi rakyat di Kerajaan Alengkadiraja, pemerintahan diktatorial nyatanya justru jauh lebih baik dari pada pemerintahan demokratis yang centang-perenang dan tak jelas juntrungannya.
Rahwana sangat menginginkan Dewi Sinta sebagai permaisurinya. Sebagai manusia, itu merupakan hal yang wajar. Namanya juga naksir. Salahnya, Dewi Sinta sudah menjadi isteri orang lain. Bahwa Rahwana menculik Dewi Sinta, itu memang kesalahan fatal. Tapi bagaimana lagi? Namanya juga usaha! Apalagi dilandasi rasa cinta yang membara. Segala cara bisa ditempuh. Kalau nggak begitu, kan malah dipertanyakan orang, seberapa besar cintanya? Kan kata pepatah juga menyatakan bahwa ‘cinta itu buta’. Bahkan cinta itu, mudah indikasinya. Orang yang benar-benar cinta, akan berada pada kondisi hilang akal dan hilang ingatan. Kalau masih bisa berpikir jernih dan tidak hilang akal, pastilah orang itu tidak benar-benar jatuh cinta. Mungkin hanya pura-pura jatuh cinta. Kalau tidak hilang ingatan (terhadap banyak hal), pastilah orang itu juga tidak jatuh cinta. Cobalah renungkan saat anda dulu jatuh cinta. Apakah benar anda tidak hilang akal dan hilang ingatan? Contohnya, saat anda jatuh cinta, bukankah anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat? Segala kecanggihan diri anda tiba-tiba lenyap begitu saja, saat berhadapan dan bertemu dengan wanita idaman anda. Saat anda jatuh cinta dulu, bukankah anda juga hilang ingatan? Lupa daratan, lupa makan, lupa tidur, dan bahkan lupa segalanya. Anda hanya bisa mengingat satu hal saja. Yaitu wanita idaman anda! Hal lainnya? Tentu saja anda lupakan. Ingatan anda tentang nasehat orang tua yang mengatakan bahwa hidup harus berhati-hati, juga bisa anda abaikan seketika. Anda tiba-tiba berubah menjadi manusia yang berani mati demi sang pujaan hati. Woooooo….. luar biasa! Jatuh cinta, ternyata bisa mengubah segalanya……..
Begitu juga dengan Raja Rahwana yang julukan aslinya adalah ‘King of Forest Blood’, dari sebuah kerajaan adidaya yang sangat terkenal di seantero jagat maya dengan sebutan ‘The Great Alengka Kingdom’. Rahwana, seorang ‘manusia berdarah rimba raya’ telah jatuh cinta! Ini merupakan suatu fenomena dan peristiwa yang sangat luar biasa yang amat sangat langka, yang diliput oleh semua stasiun televisi di seluruh dunia sebagai sebuah peristiwa besar! Ia telah dinobatkan menjadi ‘the greatest man of the year’, yang selalu ditayangkan dalam bentuk ‘headline’ di semua surat-kabar, majalah, harian lokal dan internasional, internet, stasiun televisi, stasiun radio dalam negeri dan manca negara.
Seorang Rahwana yang semula lebih dikenal sebagai penguasa sebuah kerajaan adidaya yang sangat jarang tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria yang berdandan necis dan ‘dandy’, dengan pakaian keluaran rumah mode terkenal, bergaya mode mutakhir, dengan potongan rambut yang sedang trendy. Semua orang jadi memperhatikan Rahwana yang sedang menjadi pokok pembicaraan di mana-mana. Bahkan sejumlah anak muda Alengkadiraja yang sebelumnya cenderung menjauhinya, tiba-tiba secara sangat antusias dan bersuka hati, membentuk sebuah organisasi komunitas sosial yang dinamakan ‘Rahwana Fans Club’. Majalah mode manca negara yang sangat terkenal, lantas memuat foto-foto kegiatan sehari-hari Rahwana dan menobatkannya menjadi ‘The man who give new inspiration to other peoples’.
Jangan lupa, Rahwana memang sudah ‘sugih’ (kaya raya) dari sononya. Jadi, ia jelas bukan seorang koruptor. Saat pergi ke Istana Negara Alengkadiraja, ia mengendarai mobil sport merk Jaguar model terbaru. Pakai mobil Jepang? No way! Mobil bikinan Jepang kurang keren, katanya dalam suatu wawancara eksklusif dengan sejumlah wartawan. Tanpa sungkan ia juga bercerita, bahwa ia sekarang punya kebiasaan baru, yaitu selalu membuka semua jendela dan kap atas mobilnya, jika sedang melakukan perjalanan memakai mobil Jaguar-nya. Ia, selalu melambaikan tangan sambil menebar senyum gembira kepada seluruh rakyatnya yang selalu menantikannya di pinggir jalan, saat rombongan mobil kerajaan itu lewat di jalan protokol Kerajaan Alengkadiraja. Suasana itu, juga menjalar ke Istana Kenegaraan Alengkadiraja. Suasana istana yang semula terlihat angker, formal, resmi, dan kaku; lalu berubah menjadi sebuah istana yang menyenangkan, indah, ceria, selalu penuh bunga.
Berbagai pagelaran wayang kulit, wayang wong, wayang klithik, musik keroncong, jaipongan, wayang golek, orkestra, band musik pop, musik klasik, jazz, rock, dan blues; lantas menjadi pagelaran yang secara rutin menghias pendhapa istana Alengkadiraja. Hanya musik kamar (chamber music) yang tetap tidak diijinkan Rahwana main di istana. “Musik kamar terlalu berisik, kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit. Saya bisa jadi ‘budheg’ (tuli)! Kan saya hanya menonton dengan beberapa sahabat. Jadi kurang siplah kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit di istana,” begitu kata Rahwana, seperti dikutip oleh sejumlah wartawan istana.
Tetapi jika ada wartawan yang bertanya tentang Dewi Sinta yang menurut kabar angin, selentingan, dan gosip; telah diculik dan dijadikan tawanan jelita, Rahwana selalu diam terpaku dan selalu menjawab “no comment”. Sangat nyata terlihat di air mukanya, betapa pertanyaan seperti itu telah melukai perasaannya. Menurut berita-berita yang santer dibocorkan oleh sejumlah pejabat istana Alengkadiraja, Rahwana akhir-akhir ini sering terlihat duduk termenung sendu, saat sedang sendirian di Istana Alengkadiraja. Meskipun masyarakat Alengkadiraja melihat Rahwana sebagai manusia yang sehari-hari terlihat gembira, penuh senyum, dan seringkali menyapa rakyatnya dengan tebaran senyumnya yang sangat khas, tetapi di balik itu semua ia ternyata menyimpan kesedihan luar biasa. Dan, justru karena Rahwana merupakan penguasa tertinggi di Kerajaan Alengkadiraja, maka tidak ada yang berani menanyakan kepadanya tentang apa yang telah membuatnya gundah dan bersedih. Banyak orang hanya menebak-nebak saja di dalam hati dan tidak pernah berani mengungkapkkannya secara terbuka, takut melukai hati orang yang menjadi pujaannya itu.
Diam-diam, tanpa terungkap di media massa, dan tanpa pernah dipublikasikan; ternyata banyak juga rakyat Alengkadiraja yang ikut merasa sedih atas apa yang sedang menimpa Rahwana, raja yang sangat dihormati rakyatnya itu. Pendapat mereka, umumnya terpecah menjadi dua. Sebagian mengatakan bahwa Rahwana sebagai seorang raja besar, tidak sepatutya menculik Dewi Sinta, meskipun ia sangat mencintainya. Tetapi, sebagian lagi, merasa bahwa seorang Rahwana adalah seorang laki-laki sejati, yang berani mengambil risiko apapun demi cinta matinya kepada Dewi Sinta, meskipun mereka juga tahu bahwa tindakan itu salah. Tetapi, secara umum, rakyat Alengkadiraja tetap berpendapat bahwa bagaimanapun juga, Rahwana adalah laki-laki sejati, yang menjadi dambaan setiap wanita. Ia dimimpikan oleh banyak wanita, karena keteguhan dan ketegaran sikapnya. Tidak banyak wanita Alengkadiraja yang mempunyai kekasih atau suami seperti Rahwana, yaitu jika sudah jatuh cinta, apapun rintangannya akan diterjang, apapun penghalangnya akan dilibas, dan apapun akan dilakukan demi cintanya kepada pujaan hatinya. Rahwana sebenarnya adalah seorang laki-laki ideal pujaan hati wanita…..
Tiga tahun sudah, Dewi Sinta disekap di dalam ‘keputren’ Alengkadiraja, ditemani Dewi Trijatha yang setia. Setiap hari, Rahwana selalu datang mengunjunginya dan dengan kata-kata yang selalu diusahakan diucapkan sehalus mungkin, selalu ditanyakannya kepada Dewi Sinta, apakah ia bersedia dipersunting dirinya dan dijadikan permaisuri, menjadi Ibu Negara Alengkadiraja. Dinyatakannya juga, bahwa ia hanya mempunyai satu cinta, dan cinta itu telah dipersembahkannya kepada Dewi Sinta. Setiap kali Rahwana berhadapan dengan Dewi Sinta, ia seperti hilang akal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia merasa seakan semua kekuasaan yang dimilikinya menjadi sama sekali tidak berarti di mata Dewi Sinta. Rahwana selalu berkata, bahwa ia menculik Dewi Sinta karena rasa cintanya yang tiada tara. Untuk tindakannya itu, Rahwana selalu meminta maaf kepada Dewi Sinta. Ia juga selalu mengatakan kepada Dewi Sinta, bahwa ia bersedia berkorban apa saja, asalkan Dewi Sinta bersedia dimuliakan dan dipersunting menjadi permaisurinya. Namun, setiap kali ia bertanya kepada Dewi Sinta, Rahwana selalu mendapat jawaban menolak, yang membuat hatinya remuk redam. Tiap kali Rahwana mendapat jawaban penolakan seperti itu, setiap kali pula ia terdiam. Dan, perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan Dewi Sinta sendirian tanpa mengucapkan sepata katapun. Begitulah yang terjadi setiap kali dan setiap hari. Rahwana selalu menerima jawaban yang membuatnya merasa seakan dunia hendak kiamat. Tetapi, entah mengapa, tiap kali Rahwana selalu kembali memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang sama. Meskipun ia tahu benar, jawaban yang akan diterimanya akan selalu sama, yaitu berupa jawaban menolak. Tetapi, manusia hidup dari harapan dan mimpi. Selama harapan dan mimpi itu belum pudar, maka selama itu pula manusia bisa berharap bahwa mimpinya suatu ketika akan menjadi kenyataan. Karena itu pula, Rahwana selalu kembali menguatkan dirinya untuk selalu datang bertanya kepada Dewi Sinta. Meskipun ia sangat sadar, bahwa harga dirinya sebagai laki-laki, sebenarnya sudah hancur. Rahwana telah mengambil risiko mengorbankan harga dirinya, demi cintanya kepada Dewi Sinta. Tetapi Rahwana menganggap hal itu sebagai sebuah konsekuensi logis yang harus ditanggungnya. Dalam pandangannya, harga dirinya akan pulih secara perlahan-lahan, jika ia berhasil mempersunting Dewi Sinta, dan mempersembahkannya kepada rakyatnya untuk dimuliakan sebagai seorang Ibu Negara.
Rahwana bukanlah seorang penyair, yang bisa menulis puisi jika hatinya sedang gundah. Ia juga bukan seorang penyanyi, yang bisa membuat tembang balada jika hatinya sedang sedih. Ia juga bukan seorang sastrawan, yang bisa mencurahkan isi hatinya ke dalam bentuk karya sastra, saat ia memikirkan pujaan hatinya. Pada saat-saat seperti itu, Rahwana bahkan merasa sendirian, kesepian, dan seperti sama sekali tak berteman. Ia merasa sendirian di tengah keramaian dunia. Di tempat yang sangat ramai sekalipun, ia merasa tetap kesepian. Ia selalu memimpikan bisa bergandeng tangan dengan mesra, bercengkerama, berjalan berdua dengan Dewi Sinta, sambil menyapa lambaian tangan rakyatnya. Mimpi-mimpi itulah yang selalu datang setiap malam, dan membuat hatinya kuat untuk kembali menemui Dewi Sinta pada esok hari berikutnya.
Selama tiga tahun, Dewi Sinta hampir setiap hari bertemu dengan Rahwana. Selama itu pula, ia tidak pernah disentuh atau dijamah sekalipun oleh Rahwana. Meskipun ada rasa rindu yang menggebu-gebu kepada Rama, tetapi sebagai wanita dewasa Dewi Sinta juga sering mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya ia bersikap. Secara jujur Dewi Sinta juga mengakui di dalam hati (hal ini secara diam-diam juga sering diutarakan kepada Dewi Trijatha), bahwa Rahwana dipandang dari satu segi, memang telah melakukan kejahatan, yaitu menculik dirinya. Namun, dari segi lainnya, selama tiga tahun disekap itu, ia selalu mendapat perlakuan yang sangat baik dan sopan oleh Rahwana. Dari berita dan cerita yang diterimanya dari berbagai pihak secara sembunyi-sembunyi, Dewi Sinta juga mendengar berbagai kabar tentang Rahwana. Sebagian besar kabar yang diterimanya itu, menceritakan bahwa Rahwana telah berubah menjadi orang yang gembira, penuh senyum, dan bahkan suasana istana sudah sangat berubah. Semua berita tentang Rahwana, ternyata merupakan berita yang sangat positif. Dewi Sinta sebenarnya juga berpikir, bahwa jika Rahwana benar-benar orang jahat, maka pada hari pertama saat ia diculik, bisa saja ia langsung diperkosa dan ditinggalkan begitu saja oleh Rahwana. Tetapi kenyataannya, Dewi Sinta tidak pernah mengalami hal itu. Bahkan selama disekap di ‘keputren’ Alengkadiraja, disentuh atau dijamahpun tidak pernah dilakukan Rahwana.
Saat Rahwana berkunjung, ia selalu menyatakan cintanya dan menanyakan kesediaannya untuk dipersunting menjadi permaisuri. Dan saat ia mengatakan penolakannya, Dewi Sinta selalu melihat, betapa air muka Rahwana yang seketika berubah menjadi sendu. Setiap kali Dewi Sinta mengatakan penolakannya, setiap kali pula Rahwana terdiam tak bisa berkata-kata. Dan, akhirnya Rahwana selalu berjalan perlahan-lahan meninggalkannya sendirian. Ada perasaan galau bercampur kasihan pada diri Dewi Sinta, setiap kali Rahwana perlahan-lahan pergi meninggalkannya sendirian.
Dewi Sinta juga sering berpikir dan mempertanyakan kepada dirinya sendiri, tentang Rama kekasihnya. Ia juga sudah mendengar kabar yang diselundupkan dari Ayudia. Semakin lama, serpihan demi serpihan kabar dari Ayudia itu semakin lengkap. Sehingga akhirnya Dewi Sinta bisa mengumpulkan seluruh serpihan berita itu secara lengkap, sehingga Dewi Sinta akhirnya bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi selepas penculikan atas dirinya. Meskipun hanya selintas, Dewi Sinta juga sering memikirkan mengapa Rama kekasih hatinya itu, tidak juga datang menolongnya? Apa yang telah terjadi?
Setelah tiga tahun ia tinggal di Alengkadiraja, Dewi Sinta juga seringkali berpikir, bagaimana seharusnya sikap seorang suami jika isterinya diculik. Di dalam benaknya, timbul sejumlah logika yang saling berbalikan. Secara logika, jika seorang laki-laki sangat mencintai isterinya, dan tiba-tiba isterinya diculik, maka yang yang dilakukannya adalah segera mengejar dan berusaha mencari isterinya. Tetapi dari berita-berita yang diterimanya, Rama ternyata tidak segera melakukan upaya mencari dirinya. Bukankah ia titisan Dewa Wisnu? Bukankah Rama juga sakti? Mengapa ia tak melakukan usaha apapun, saat isterinya diculik? Mengapa Rama justru mengutus ‘agen rahasia’ yang bernama Anoman untuk menemui dirinya? Mengapa perintah Rama kepada Anoman, adalah supaya mengabarkan bahwa Rama dalam keadaan baik-baik saja? Mengapa Anoman hanya disuruh menyerahkan sebuah cincin kepadanya? Mengapa Anoman tidak diperintahkan untuk ‘menculik’ Dewi Sinta dan membawanya kembali ke Ayudia? Berjuta pertanyaan bergaung berulang-ulang di dalam benak Dewi Sinta.
Meskipun Dewi Sinta tetap mencintai Rama, tetapi penantian yang begitu lama dan kesepian yang merajam hatinya setiap hari dan setiap malam, membuatnya akhirnya juga berpikir. Pikiran buruk itu, juga seringkali melintas di benaknya. Ia selalu berusaha menepis berbagai pikiran buruk itu. Tetapi, pikiran dan bayangan itu selalu saja datang sendiri setiap kali ia merenung. Sesekali ia sempat juga terpikir, bahwa Rama bukanlah laki-laki yang sejati. Bagaimana bisa seorang laki-laki sejati bisa membiarkan isterinya diculik selama tiga tahun dan ternyata ia tidak melakukan upaya apapun? Sesekali, muncul juga pikiran yang menyatakan bahwa Rama merupakan suami yang tidak bertanggung-jawab. Jika ia memang suami yang bertanggung-jawab, mengapa selama bertahun-tahun membiarkan saja isterinya disekap di keputren negara lain? Sesekali, muncul juga pikiran yang mempertanyakan sumpah dan janji Laksmana, yang didengarnya sangat jelas, saat membuat garis ‘rajah kalacakra’ pelindung, sambil mengucapkan sumpah, yang menyatakan akan selalu menjaga dan melindungi Dewi Sinta selama hayatnya.
Dewi Sinta juga manusia biasa. Ia juga wanita seperti layaknya wanita lainnya. Yang membedakannya hanya kedudukannya semata. Saat Rahwana datang menemuinya, sesekali sempat juga ia memperhatikan tubuh Rahwana yang tinggi besar, gempal, berotot, dan atletis. Bahkan tubuh Rahwana jauh lebih tegap dari pada Rama suaminya. Rahwana, jelas jauh lebih ‘macho’ dan tentu bisa membuat setiap wanita gandrung dan mabuk kepayang. Sebagai seorang wanita muda yang sudah sekian lama tak tersentuh laki-laki. Dewi Sinta beberapa kali juga sempat merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdegup keras tak terkendali. Bulu kuduknya seringkali berdiri meremang, saat membayangkan tubuh Rahwana menyentuh dirinya. Bukan karena takut, tetapi karena terbuai oleh bayangan indah yang tiba-tiba merangsek ke dalam benaknya. Keringat dinginnya mengucur begitu saja di seluruh permukaan tubuhnya. Tubuhnya, tiba-tiba berubah menjadi panas dan seketika otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada gejolak gairah yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dikendalikannya. Badannya bergetar hebat, lidahnya terasa menjadi kelu dan sukar untuk berkata-kata. Jari-jari tangannya yang lentik, tiba-tiba menjadi gemetar. Tubuhnya lemas dan seakan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakkannya. Hatinya sejenak menjadi resah dan gelisah. Saat ia menjawab pertanyaan Rahwana, kalimat yang terlontar dari mulut mungilnya begitu bergetar, sehingga saat mengucapkannya menjadi terbata-bata. Untunglah, Rahwana menganggap kalimat yang diucapkan terbata-bata itu, sebagai ucapan seorang yang sedang dilanda ketakutan hebat. Andai saja Rahwana tahu apa yang sedang dirasakannya, mungkin ceritanya akan menjadi lain…..
Malam-malam yang dingin, sepi, dan hanya ditingkah oleh suara cengkerik dan binatang malam, membuat Dewi Sinta sering melamun kesepian. Dalam tidurnya, semakin lama semakin sering ia memimpikan Rahwana; dan semakin lama semakin berkurang pula mimpi-mimpi tentang Rama. Mimpi-mimpi ‘indah’ itu selalu datang sendiri tanpa diminta. Diam-diam Dewi Sinta telah jatuh cinta kepada Rahwana! Itulah kenyataan yang dialaminya. Ada perasaan galau, sewaktu memikirkan betapa Rahwana sangat mencintai dirinya, sementara Rama yang dicintainya justru tak pernah ada kabar beritanya, seakan Rama telah membiarkan dan menelantarkan dirinya. Namun, otak dan perasaan seringkali memang tidak sejalan. Di malam-malam yang sepi, Dewi Sinta sering menangis, karena merasa telah berdosa. Ia merasa telah membagi dua cintanya. Di dalam hatinya, diam-diam telah terukir nama Rahwana sebagai seseorang laki-laki yang selalu dimimpikannya, tetapi akan pernah tidak bisa dimilikinya…….
Minggu, 25 Maret 2012
23.59
No comments
Ramaparasu : Kang Lali Marang ing Purwaduksina

“Kakang Patih Surata, rumangsa ribet rasaning atiku lan sepet paningalku yenta nyawang wujude Bambang Sumantri kang kaduk piangkuh. Yenta nyata kesaguhane bisa ngentasi gawe kaya kang ingsun kersaake, bakal gedhe ganjarane. Nanging yenta luput kaya kang disaguhake, bumi Maespati aja nganti kaambah dening wujude manungsa kang aran Bambang Sumantri. Sadurunge mangkat marang Negara Magada, busanane Sumantri kang ngenek eneki kuwi, salinana cara kaprajurtian. Ujubing atiku ora arep ambebagus marang wujude Bambang Sumantri, nanging kanggo rumeksa kuluhuraning jenengingsun. Negara Maespati aja nganti asor darajate, darbe caraka kang busanane ora mingsra”. Mangkana dhawuhku marang Patih Surata mungkasi anggonku anggelar pasewakan.
Atur sembah Bambang Sumantri mundur saka paseban sadurunge ingsun jengkar. Sinusulan dening Patih Surata. Sawusnya Bambang Sumantri wus sangkep salin busana kaprajuritan, sakala katon tejaning Bambang Samantri saya anggenguwung. Sarira kang wus binusanan cara kaprajuritan, sangsaya mencorong, cinandra kaya dene dewa ndharat. Cingak kang pada nguntapake budhaling caraka kang tetela anggung akarya sengseming para kang aningali ing sadalan-dalan. Para kenya kang wani anyaketi unggyaning Bambang Sumantri pada anjejawat, nanging ana saweneh kang amung wani angawe-awe ngujiwat.
Gancaring cerita, Bambang Sumantri wus keduga mboyong sekaring kedhaton Magada, Sang Dyah Citrawati. Nanging bawane satriya kang maksih kagawa ing rasa kamudhan lan durung kuwawa anyingkirake rasa adigang, adigung, adiguna, sakala kadadak salin solah bawa. Melik anggendhong lali! Nalika samana Bambang Sumantri kang wus masanggrah ing tapel watesing Negara Maespati, sinususulan dening Patih Surata. Ature Bambang Sumantri marang Sang Rekyan Apatih Surata, menawa Dewi Citrawati arep kaaturake, nanging papane ing sajroning payudan.
Rumangsa wus bisa ngregem jagad, sawusnya bali marang praja, Sumantri kedadak nanting kasudibyaningsun srana pasemon alus. Kaya pineksa ingsun nglanggat pamundhute Bambang Sumantri tandhing tysa. Supaya ora asor drajate dene mungsuh kang amung wujuding caraka, mula ingsun ngloropake busanaku keprabon, murih ka anggo busana dening Bambang Sumantri.
Nalika tandhing ingsun kekaron, para jawata padha tumurun nyekseni paprangan, kang yen kadulu saka ing kadohan kaya dene tetandingan yuda antarane para ratu kang kembar wewujudane. Mangkana tandhing ingsun lumawan Bambang Sumantri dedreg silih ungkih rebut unggul. Nalika samana Bambang Sumantri ganti kalindhih, Bambang Sumantri musthi sanjata Cakrabaswara. Sanjata dibya kang ampuhe kagila-gila. Mulat Bambang Sumantri kang wus siyaga menthang gendewa nglarapake senjata dibya, nuli jenengingsun matak aji Triwikrama. Cinandhak wani sarirane Bambang Sumantri, tan mangga puliha Bambang Sumantri nuli kapikut. Nanging jroning batin ingsun kang wus kaduk ngungun marang kasektene Bambang Sumantri, mula nulya ingsun paringi aksama. Nanging paukuman kudu anut marang jejeging adil. Bambang Sumantri kang wus pasrah dhiri, dak patrapi paukuman. Paukumane kang kaya-kaya ora salumrahe, nanging ingsun percaya lamun Bambang Sumantri saguh minangkani.
Bambang Sumantri kudu keduga mindhah Taman Sriwedari kang dumunung ing imbanging gunung Untarayana, kudu kaboyong marang taman sari Negara Maespati, kinarya lipuring manah Dewi Citrawati kang katemben pisah lan wong atuwane.
Sungkawaning ati Bambang Sumantri nalika samana sakala kedadak ganti ing bebungah, nalika kelingan marang sedulur mudha, Bambang Sukasarana. Sedulur mudha kang duk inguni kasimpe sabab kinira amung ngrubeda-angreridhu lan anjejereng wirang amarga darbe wewujudan kang anggelinani. Paminta srayane Sumantri mindhah Taman Sriwedari tumuju ing Praja Maespati marang Sukasarana sinaguhan, amung kudu liniru lilane kadang werdha tansah cinaket. Sakala pamintane keng rayi Bambang Sukasarana kaya dene amung bab kang sinangga entheng. Nanging welinge Bambang Sumantri kalawan Sukasarana, yen mengko wus keduga mboyongi taman, aja nganti kawuningan luwih disik wewujudane dening sanggyaning para kawula ing Maespati
****
“Sang Rama Parasu, jengandika meksih kersa midhangetake dedongenganku?” Kapedhot dedongengan sawatara, nanthing marang Sang Rama Bargawa apa isih kersa midhangetake. Senajan ing rasa batin, ingsun mulat jineming guwaya Sang Rama Bargawa kena kajajagan, menawa Rama Bargawa banget kepranan.
“Mara gage terusana! Senajanta dawa caritamu ngungkuli dawaning lurung, aku saguh ngematake candhaking critamu” Mangkana jajawab Sang Rama Bhargawa kanthi ulat kang sumeh. Nuli ingsun kalawan sumendhe ing gunging kekayon ambacutake critaku kang wus kawuri.
****
Gelise kang munggel kawi, kaleksanan Sukasarana mboyongi Taman Sriwedari marang Negara Maespati. Nalika samana garwaningsun Dewi Citrawati kang kepareng nitipriksa gelaring taman Sriwedari kang nembe kaputer-puja, ingayap sakehing para emban cethi. Sakala mekar sakehing kusuma, manglung kang panging kekayon kasilir ing samirana mandra. Keh peksi-peksi kang miber ing gegantang padha pating caruwet manembrama kang kersa tindak cangkrama. Kombang kombang mbrengengeng kaya asung kekidung, saka kepranan marang liringing netrane sang pramensywari. Senajanta sesekaran pada mekrok rebut warna ngujiwat minta sang dewi kersaa methik kinarya sesumping. Rena panggalihe garwaningsun Citrawati kang tindake saya manengah kepranan marang edi endahe kang taman Sriwedari, kang tetela kaya dene endahing taman ing swargaloka.
Nanging kacarita, sakala kejot panggalihe garwaningsun, nalika mulat ana pawongan bajang ceko kang pasuryane anggegirisi dumunung ing jroning taman. Tetela iku wujuding Bambang Sukasarana kang tan kuwawa angampah hardaning karep, marepeki wanita kang banget sulistyaning warna. Gya Bambang Sukasarana miyak kang grumbul sangandhaping wit nagasari, nyaketi ungyaning Sang Dyah Pramesywari. Girap girap sarwa anjelih-jelih Sang Prameswari keplayu kamigilan, matur marang ingsun. Nuli ingsun matah marang Patih Suwanda kinen ngrampungi gawe, nyirna’ake dhemit kang dumunung ana ing sajroning taman sari
Nalika samana duka yayah sinipi Bambang Sumantri marepeki papan padunungane Bambang Sukasarana. Jroning batin wus tan samar lamun Bambang Sukasarana kang gawe gendra, suwala marang dhawuhe yen ta ora kena metu saka sesingidan. Wus prapta ing papan dununge Bambang Sukasrana kang sigra mulet unggyane kang raka sarwi matur “Ayo kakang Sumantri, apa aku wus kalilan seba marang ngarsane Prabu Harjuna Sasrabahu. Yen kowe bisa suwita marang Gusti Prabu Harjuna Sasrabahu, aku kudune ya bisa kaya kang kok tindak’ake, kakang!”
Nanging rerepane Bambang Sukasarana tan rinewes dening kang raka, Bambang Sumantri, kang wus kalimputing deduka, sugal wuwuse Bambang Sumantri , “Kowe wis nate tak weling apa?!”
“Aku kudu ndelik ana ing petamanan”. Kanti ulat kang kaya tanpa dosa, ngucap Bambang Sukasrana.
“Mangertiya yayi, yen ta kusuma ratu kamigilan nyawang wujudmu. Mula yayi, ayo tak terke mulih dhisik marang Pertapan Jatisrana. Mengko yen wus ana kalodhangan kang prayoga, kowe bakal tak parani, suwita bareng marang ngarsane Prabu Harjuna Sasrabahu”. Bambang Sumantri ngandika njlentrehake perkara, sarwa ngampah gempunging rasa.
“Emoh kakang, yen aku bali, kowe ya kudu bali.Nalika samana kakang nyimpe aku tanpa pamit, kaya pecat-pecata sukmaku. Mangertiya kakang, mbiyen kuwi aku nangis meh sepasar suwene. Tak goleki seprana-seprene nanging saiki sikakang bakal mbalekake aku maneh marang Pertapan. Oooh kakang, kaya ngapa rasa sepining ati, yenta aku pisah kalawan kowe kakang” Sukasrana panggah anduwa-suwala.
“Kowe aja gawe nesu, Sukasrana!!” Jumangkah Bambang Sumantri, akeh wuwusnya Bambang Sumantri sarwi anjempalani sarirane Bambang Sukasarana. Bambang Sukasarana amung pasrah dhiri senajan sarirane wus babak-bunyak, nanging tan ana pangresula senajan amung sakecap, kawetu saka lathine Sukasarana. Bambang Sumantri kang wus tan enget marang pamintane kang angarih-arih inguni, minta pambiyantu mindhah Taman Sriwedari, panggah ngrudapeksa Bambang Sukasrana nundhung kang rayi, amarga jrih marang gusti natane, aja nganti anjejereng sasra wirang . Nalika samana wus keprungu umyung bendhe tengara lamun ingsun nedya tindak sesarengan lawan garwaku angambali tedhak cangkrama.
Saya sigug-kidhung goreh rasane Bambang Sumantri kang sigra angagar agari jemparing marang Bambang Sukasrana, pepethane karya ngurak Bambang Sukasarana supaya age-age lunga saka patamanan. Sedhela-sedhela Bambang Sumantri tumoleh wuntat sekedhap sekedhap nyawang unggyane Bambang Sukasarana kang amung mandeng kang raka kanthi netra kang panggah kumedhep. Jroning nala Bambang Sumantri kaya rinujit, nanging bawane wus saguh ngayahi dhawuhing nalendra lan krasa luput yen bakal nampa bebendu, sakala dres wijiling riwe kaya dineres.
Sangsaya lunyu cepenging warastra, nanging lenging rasa kaya wus ilang musna. Ponang warastra kang wus mapan ana ing kekendheng sakala mrucut saka astane. Tumama jajaning Bambang Sukasarana butul ing walikat. Raga gumuling ing siti, ngalumpruk tanpa daya. Dres kang ludira muncrat saka ing jaja. Nanging ana kaelokaning jagad, raga kang sadina-dina angganda bebanger, parandene ludiraning Bambang Sukasrana tetela arum mangambar ngrabasa sakehing durgandana. Kedhep tesmak Bambang Sumantri mulat sesawangan kang ana telenging netrane, sabab dene kaya kacabut sukmane.
Angles kekes rasane Bambang Sumantri kaya wungu saka nendra sigra rinangkulan jasade Bambang Sukasrana kang nandhang katriwandhan. Tetela nalika samana wus sirna marga layu Bambang Sukasarana. Bundhu bundhelaning manah Bambang Sumantri kang kaocap amung rerepa jroning panalangsa.
“Sukasrana apuranen aku, ora ngira lamun kowe tekaning sirna. Sukasrana, apuranen aku!!”
Kagyat gora wekasan Bambang Sumantri kedadak ana swara kang cetha wela wela dumeling ing karna, “Heh Bambang Sumantri! “
Menyat Bambang Sumantri sarwa tumoleh kanan ngering, nanging kang den upadi tan ana katingal. Tumuli Bambang Sumantri muwus “Kowe sapa ?!”
Swara kang dumeling iku keprungu mawantu wantu “Aku Bambang Sukasrana!! Sagluguting kolang kaling sarambut pinara sasra aku ora nduwe rasa serik-murina lawan kowe kakang. Nanging kaya kang wus tak aturake marang kowe, yen ta aku ora kena ginggang sarambut kalawan kowe. Aku ora bakal tumuli sowan ing pangayunaning para Dewa, yen ora bareng kalawan kowe, kakang Sumantri. Tak enteni ana bokur pangarip-arip. Nanging elinga, menawa ing tembe kowe prang tandhing lan Raja Ngalengka Diraja, ing kana wahyane kowe tak susul sowan marang ing tepet suci. Wis kaya mung semene anggonku matur marang kowe kakang, tumuli si kakang ngadhepa marang Sang Prabu Harjuna Sasrabahu”. Sawusnya matur marang Bambang Sumantri, lon lonan jasad kang gumlethak ing siti katiyuping samirana, sirna ilang saka telenging netrane Bambang Sumantri kang amung anjegreg mangu-mangu kaya tugu sinukarta.
Mangkana wus caket praptaku ing papan kadaden kang kaya dene ora ana sawiji wiji, nuli Bambang Sumantri matur menawa drubiksa kang angganggu gawe ing jroning Taman Sriwedari wus keduga kasirnaake. Saka renaning atiku, nalika samana Bambang Sumantri ingsun wisuda dadi Mahapatih ing Negara Maespati, kanthi jejuluk Patih Suwanda. Saya rumaket kekadanganku kalawan Patih Suwanda, presasat kaya dene kadang tunggal yayah rina.
Gilir gumantining kalamangsa, nalika samana garwaku Citrawati kersa leledhang ing balumbang pasiraman, anut ilining bengawan kang mbelah madyaning petamanan. Ketiga ngerak kang tan kena kasaranan, meksa jenengingsun triwikrama mbendung bengawan. Samantara Patih Suwanda kajibah ngreksa yuwananing praja.
Nanging tindak culika thukulaning mungsuh telik sandi upaya kang ambebidhung api rowang, uninga menawa jenengingsun oncat saka praja. Kinira lamun Praja Maespati ringkih, gya kerig lampit nglurug mungsuh saka Negara Ngalengka kang sangkep ing gegaman angrabasa tanpa layang panantang. Praptane prajurit sagelar sepapan katon nroncong tumbake nganti kaya landak sayuta, megar payunge kaya jamur barat, barisan kang pinandegan dening Prabu Dasamuka.
Sang Prabu Dasamuka kang kayungyun kadereng sengsem marang Dewi Citrawati kang kawentar panjalmaning Dewi Widawati ora kena sinayudan kersa mboyong peksa marang Negara Ngalengka Diraja. Sadalan dalan patrape kang pabarisaning mungsuh pada sawiyah-wiyah anjejarah rayah.
Patih Suwanda kang tansah prayitna ing gati siyaga ing dhiri, greget gumregut anrenggalangi mungsuh umadeg angembani wajib. Mangkana kekarone wus ayun ayunan, Patih Suwanda kalawan Prabu Dasamuka.
(wonten sambetipun)
“Inspirasi” dongengan menika lumintu saking kitab Ramayana anggitanipun Herman Pratikto, kaolah mawi sawernaning bumbu sarwa Jawi.
23.39
No comments
Judul :
Sang Pemimpi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit :
PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2007
Jumlah Halaman : 292 Halaman
Jenis Buku : -
Sinopsis :
Hari yang
mencekam menyelimuti arai, jimbron, invalid dengan disela petir terdengar
dengan jelas suara pantopel yang semakin mendekat hanya terhalang jarak dan
papan lagi suara pantopel itu mendekat.
Yang lebih parah lagi invalid dia muntah-muntah.
Ari menerawang dari sela-sela celah menyimpan ikan.
Yang lebih parah lagi invalid dia muntah-muntah.
Ari menerawang dari sela-sela celah menyimpan ikan.
Mereka
mengendap-endap manjauhi suara sepatu tersebut pada saat arai menengok 20 meter
kebelakang terlihat di teronggok reyot dipabrik cincau, dan daun-daun cinta
berhamburan, lalu menyelinap melompati para-para alung dan membaur diantara
pembeli diantara pembeli tahu.
Aku melirik kejam, pengen rasanya aku mencongkel matanya kata si
Arai.
Arai
selalu megeluarkan gejala yang bisa menandakan kalau dia sedang ketakutan
tubuhnya menggigil, giginya gemeletuk dan nafasnya mengendus satu-satu.
Selain
itu pak Mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara
lama yang keras dalam penegakan disiplin. Selain guru biologi dia juga
darwinian tulen karena itu dia sama sekali tidak toleran.
Lebih
dari gelar B.A itu adalah perguruan traditional silat yang ditakuti, dengan
kebiasannya menjilat telunjuknya dan menggosok telunjuk itu ke embel-embel
namanya yang bertengger didadanya. Nafas Arai tertahan ketika pak mustar
membalikan tubuhnya.
Pak Mustar adalah seorang yang penting banget sebenarnya dengan
kerja kerasnya pak mustar bisa mendirikan sekolah SMA dibelitong kemudian pak
Mustarlah yang telah menyelamatkan keterpurukan yang hampir melanda belitong.
Sebelum pak Mustar mendirikan sekolah itu Arai, Ical harus
menempuh jarak 120 km jauhnya untuk ke sekolah, dan memang benar SMA itu bukan
SMA yang biasa, SMA itu adalah SMA yang terfaforit disana,
Pak Mustar adalah sosok yang baik, sopan, santun dan memadu dengan
masyarakat banyak. Tapi lain hal dengan sekarang pak Mustar menjadi manusia
jelmaan robot yang keras bila dikatakan manusia bertangan besi setelah dia tau
anaknya yang justru tidak diterima di sekolah SMA yang dia bangun itu, padahal
dengan kerja kerasnya pak Mustar meembangun sekolah itu.
Pak Mustar tidak dapat lagi membanggakan sekolah dan tidak dapat
lagi membanggakan anaknya, semua anakpun senang karena mereka diterima kecuali
anak pak Mustar. Dia tidak diterima karena NEM ujian nasionalnya kurang dari
0,25 dari batas minimal untuk nilai NEM yang bisa diterima adalah 42, sedangkan
anak pak mustar Cuma 41,75.
Setelah empat puluh tahun akhirnya bumi pertiwi belitong timur
negeri yang kaya akan timah itu memiliki SMA Negeri, maka dan itu orang melayu,
tionghoa, sawang dan pulau berkerudung ingin menghirup candu ilmu di SMA itu.
Drs. Julian Ichsan balia adalah seorang kepala sekolah dimana
tempat arai, ical sekolah.
Ada yang menyumbangkan kapur tulis, papan tulis, jam dinding,
pagar, bahkan masih ada salah satu anak yang NEM nya 28 tap dia tidak tau
ibukota provinsinya sendiri sumsel mendapat kursi di SMA itu.
Arai adalah lelaki pada biasanya dia bertengkar dengan tukang
parkir sepeda hanya gara-gara uang dua ratus perak.
Arai adalah anak yatim karena waktu Arai berumur 7 atau saat kelas
satu SD, ibu Arai meninggal dunia karena melahirkan anak yang kedua, tapi bukan
kebahagiaan malah anak dan ibunya meninggal, ternyata kesedihan belum mau
beranjak dan hidup Arai menginjak kelas tiga SD Arai harus lagi mengeluarkan air
mata karena harus ditinggalkan sang ayah yang sangat ia cintai.
Bagaimana
tidak semenjak ibunya melahirkan dan langsung meninggal arai hanya hidup dengan
ayahnya, kini arai harus merasa kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus
ayah dan ibunya.
Dalam
perjalanan kerumah ikal, ikal tidak banyak bicara karena pilu kepada arai,
sesampai dirumah ikal arai menangis dan dibasuh nya airmata dengan tangan
bajunya yang dekil dan kumel ayah ikal mencuri-curi pandang kepada kepada arai
dan ikal, sebari duduk diatas kopra.
Tak lama
kemudian arai mengeluarkan suatu benda yang belum pernah ikal lihat sebelumnya,
bahkan asing banget .
Benda itu
menyerupai helikopter dan benda itu sangatlah sederhana karena itu adalah benda
permainan anak kampung.
Setiap sehabis maghrib ikal selalu mengajak arai membaca kitab
suci al-quran dibawah lampu minyak tanah yang kurang terang.
Jika ikal
sedang mengaji arai malah turun dari tangga rumah untuk berlari menembus kebun
ilalang menuju lapangan diujung kampung ditempat rumah ikal.
Waktu itu
matahari yang menyinari rumahku begitu gerah, dan kebun kelapa sawit yang
seakan membelah sinar matahari sambil duduk diatas talang arai dan ikal
memainkan mainan traditional yang terbuat dari kaleng susu bendera dan kaleng
botan. Arai diatas talang sedangkan ikal di kandang ayam. Dan mereka bertemu
dengan ibu-ibu yang berbadan gemuk, yang itu adalah cek maryam yang
meminta-minta beras dengan karung butut dan kedua anaknya meminta belas kasihan
kepada ibunya ikal. Dengan rasa kasihan.
Waktu itu masih pagi dimana tempat foto copy “Kang Emod” masih
tutup itu adalah tempat kami bekerja. Dengan mengumpulkan
bahan US arai tidak mengerti, terigu, minyak dan tidak lama kemudian
ibu mertua deborah menampar-namparkan piring ketempat makanan kucing, mereka
hanya diam dan bersifat sabar mendengar semua yang di lakukan mertua deborah.
Air mata mak cikpun jatuh, seakan terlahir untuk susah, lalu mak
cik menatap anak perempuanya yang namanya Nurmi. Nurmi adalah anak kelas dua
SMP, dia kelihatan kurus kering dan kurang gizi. Ia terlihat batinya sangat
tertekan nurmi sambil memegang erat biola kesayanganya.
Dia
dikasih bakat dari kakeknya dikampung.
Keluarga ikal miskin tapi keluarga mak cik lebih miskin daripada
keluarga ikal.
Ikal dan arai ngefens banget pada A. Put.Peraturan terbaru terjadi
pada adat dimana A.Put tinggal dengan sesuatu yang terjadi, misalkan banyak
yang terjadi banyak kelahiran maka seorang paraji akan menjadi ketua adat dan
jika para buaya yang mulai tak bersahabat dengan masyarakat sekitar maka pawang
buayalah yang akan menjadi ketua adat begitu dan begitu seterusnya.
Dan
aktifitas yang dilakukan oleh arai, jimran dan ikal setiap pagi adalah berbekal
bambu, mereka mencari hewan laut yang bisa dimakan.
Pada suatu malam, ikal, arai dan jimran nonton TV dibalai desa dan
menyaksikan tayangan berita tentang mujahidin, dengan semua itu mereka taulah.
Ibu arai
tidak bisa menulis dengan benar tetapi dia bisa menulis dengan huruf latin,
sedangkan ayah arai menulis dengan menggunakan huruf arab, bahkan tanda tangan
ayah arai menggunakan salah satu huruf arab.
Pada saat
pengambilan raport aku memakai baju berkantong empat, yang mana baju tersebut
memiliki sejarah yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.
UNSUR INTRINSIK
1. Tokoh
·
Ikal : baik hati, optimistis, pantang menyerah, penyukaBangRhoma
·
Arai : pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin,pantangmenyerah
·
Jimbron : polos, gagap bicara, baik, sangat antusias padakuda
·
Pak Balia : baik, bijaksana, pintar
·
Pak Mustar : galak, pemarah, berjiwa keras
·
Ibu Ikal : baik, penuh kasih saying
·
Ayah Ikal : pendiam, sabar, penuh kasih sayang, bijaksana
2. Alur
·
Dalam novel ini menggunakan alur gabungan (alur
maju danmundur). Alur maju ketika pengarang menceritakan dari mulaikecil sampai dewasa dan alur mundur ketika menceritakanperistiwa waktu
kecil pada saat sekarang/dewasa.
3. Latar
·
Latar lokasi : Pulau MagaiBalitong, los pasar dan dermaga
pelabuhan, di gedung bioskop,di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor,
dan PulauKalimantan
4. Tema
·
persahabatan dan perjuangan dalam
mengarungikehidupan serta kepercayaan terhadap kekuatan sebuah mimpiatau
pengharapan










