Kamis, 03 Mei 2012



Character Istemewa dari Grandchase Korean!!!
Character ini Bernama Massively !!!
Skill  nya istimewa !!
Character ini sangat membantu untuk bermain Hero's Dugeon !!
Kalo Sudah Update Dari korea ke Indonesia kalian gak bakalan rugi kalo beli ini !! 
Character ini sangat istimewa !!!


kalau sudah ada saya jga beli kok !!
Good Luck !!
Salam Granchase 1mUtzz !!!



Asal usul nama Indonesia – Nama Indoneisa untuk pertama kalinya muncul di dunia yaitu terdapat pada tulisan James Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Logan adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada saat mengusulkan nama Indonesia Logan tidak menyadari dan tidak menduga ternyata nama Indonesia itu menjadi nama bangsa dan Negara yang mana jumlah penduduknya merupakan peringkat keempat terbesar di dunia. Dari situlah James Richardson Logan secara konsisten menggunakan nama Indonesia dalam karya ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanannya waktu pemakaian nama Indonesia menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Inilah yang menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah Indonesia di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah Indonesia itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah Indonesia itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut -Hindia Belanda-. Juga tidak -Hindia- saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai pengganti nama Nederlandsch-Indie. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama Hindia Belanda untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Penjelasan Singkat:
Mengenai Logan. Namanya: James Richardson Logan (1819-1869). Dia adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh.
Dia cuma seorang pengelola majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA); yang diterbitkan di singapura pada 1847.
Orang yang lebih arif mengenai Indonesia & kawasan di mana Indonesia itu berada adalah, George Samuel Windsor Earl (1813-1865).
Dia adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris. Pada tahun 1849, dia mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: …the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Itulah sedikit artikel tentang Asal Usul Nama Indonesia, semoga dengan artikel tersebut, Anda khususnya yang memang ingin mengetahui secara pasti tentangsejarah awal mula nama indonesia sudah tidak penasaran lagi, dan tentunya seperti yang duniabaca.com katakan dengan membaca kita akan bertambah ilmu pengetahuan.

Asal usul game online

Saat ini mungkin sedik
it sekali orang yang tidak tahu apa itu game online. Mereka mungkin tahu karena gemar atau pernah memainkan dan mungkin juga mereka hanya tahu saja tetapi tidak pernah dan tidak gemar memainkan. Tetapi apapun itu yang jelas saat ini dunia sedang benar-benar dilanda “game addict”. Sebut saja saya yang sempat tergila-gila dengan permainan online ini. Tetapi untungnya saat ini saya tidak lagi terkena sindrom “game addict”.


Lalu bagaimana sih game online ini bisa muncul? Rasanya kita perlu tahu guna menambah pengetahuan. Semua ini terjadi pastilah karena kemajuan teknologi yang kian mutakhir dan juga dari ketidakpuasan manusia pada ketidak esfisienan alat-alat yang telah ada pada zamannya. Manusia selalu menginginkan kepraktisan dalam hidupnya sehingga dapat menghemat waktu.
Sekarang mari kita flashback sebentar, melihat awal mula munculnya video game online. Game di komputer mulai muncul awal tahun 1950-an dengan dinosaurus sebagai tokoh utamanya. Kemudian ada seorang siswa yang mencipatakan permainan Tic-Tac-Toe untuk tugas sekolahnya. Pertengahan tahun 1960-an seorang siswa MIT membuat program permainan yang dikenal dengan nama Space War. Akhir 1960-an menghadirkan permainan video game yang sesungguhnya seperti Tenis Meja dan Permainan tembak-tembakan. Akhir tahun 1970-an, video game mulai digilai berkat komputer yang mulai dimiliki semua orang. Lalu semenjak komputer mulai popular, orang-orang mulai menciptakan game yang disukai oleh masing-masing dari mereka. Semua tiba-tiba berprofesi sebagai programmer. Mereka lalu menjual game ciptaan mereka ke local market. Lalu Nintendo memperkenalkan game Pole Position dan Pac-Man yang mendapat sambutan luar biasa.
Seiring dengan semakin besarnya ketertarikan akan game, teknologi piranti lunak untuk game pun berkembang makin pesat. Yang awalnya hanya sekedar game berbasis PC atau TV yang dimainkan sendiri atau secara bersamaan (multiplayer) di sebuah medium yang sama, kini mulai bergerak ke arah permainan yang terhubung secara online. Artinya, pemain dapat beradu strategi dan keterampilan dengan sejumlah besar pemain yang berada di belahan dunia lain. Kondisi ini dimungkinkan oleh keberadaan internet.




Game online sendiri mulai dikenal pada tahun 1990-an semenjak munculnya era 3-D dan multimedia. Game online yang pertama berupa game petualangan bernama Myst, tapi masih dalam bentuk CD-ROM format. Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, game online pun berkembang terus seiring dengan penemuan-penemuan yang bisa memperbaiki kualitas dari game ini. Game online pun tadinya hanya bisa dinikamati oleh satu orang tapi kelamaan semua bisa bersama-sama mengaksesnya berkat MUDs(Multi-User Dungeons). Dengan PC dan juga internet, yang kita butuhkan untuk bisa bermain adalah komputer yang bagus dengan software terbaru yang bisa menghandle program flash.






Mengingat sebentar yaitu tepatnya sekitar enam atau tujuh tahun lalu, yang sempat menjadi fenomena di kalangan gamer Indonesia adalah game yang menggunakan sistem LAN (Local Area Network) atau yang kerap disebut game jaringan. Game center berbasis LAN pun mulai menjamur di kota-kota besar, banyak diantaranya yang menerapkan sistem operasi 24 jam. Saat itu, game Counter Strike menjadi yang paling laris di kalangan gamers.


Lambat laun, kepopuleran Counter Strike termakan jaman. Kini, banyak gamers yang mulai beralih menggandrungi DotA, game yang mengusung genre Real Time Strategy, Ragnarok, dan lainnya. Semua orang yang saat itu sedang online pada waktu yang bersamaan bisa saling berinteraksi dalam permainan tersebut melalui karakter-karakter yang disediakan..


Di Indonesia, fenomena game online tidak kalah semarak dengan yang terjadi di luar negeri. Jika anda mengintip Multi Player Game (MPG) yang bertebaran di setiap sudut kota, anda akan melihat besarnya minat para gamers bermain game online. Para gamer betah bertahan selama berjam-jam di depan layar monitor untuk bermain. Di era multimedia dewasa ini, manusia menemukan sahabat-sahabat baru untuk saling bermain, berdialog bahkan beradu strategi dan bertempur. Aktivitas-aktivitas yang sangat alami dan dekat dengan kehidupan manusia pada umumnya. Sahabat baru itu bernama game, suatu media virtual yang mewadahi penggunanya untuk bermain dan adu strategi untuk dapat memecahkan suatu persoalan dan memenangkan tantangan yang disajikan di dalamnya. Secara teknis, permainan ini dapat dinikmati menggunakan komputer, televisi, atau bahkan di ponsel.
Jenis-jenis game online bergenre MOG (Multiplayer Online Game) tidak berbeda jauh dengan game berbasis LAN. Ada yang mengusung strategi, role playing, atau bahkan sport. Sebut saja, WoW (World Of Warcraft) yang berjenis RPG (Role Playing Game), PangYa yang berjenis fantasi sport atau Gunbound yang mengusung kategori turn-based.

Setiap tahun, rata-rata pertumbuhan game online mencapai 79 persen setiap tahunnya. Perkembangan game online yang cukup pesat ini ditunjang oleh penambahan pemain dan game yang diciptakan. Bagi pemain, game online saat ini bukan hanya sebagai hiburan semata. Bermain game diyakini secara tidak langsung sebagai ajang mengasah otak. Pemain dapat mengasah kecepatan berpikir dan melatih otak saat bermain game. 
Salah satu efek dari maraknya perkembangan game online adalah terciptanya komunitas-komunitas game yang memfasilitasi para gamer untuk menuangkan segala pengalaman mereka seputar bermain game tersebut. Tak hanya itu, komunitas-komunitas tersebut kemudian dijadikan ajang komunikasi multikultural yang dapat menjelma menjadi gaya hidup dan penyambung tali silaturahmi antar sesama manusia.


Ekses dari game online yang telah menjelma sebagai gaya hidup adalah pemanfaatan waktu bermain yang berlebihan. Rasanya kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidaklah menguntungkan. Game online mempunyai kecenderungan membuat pemainnya keasyikan bertengger di depan komputer sampai melupakan waktu. Jika hal ini terjadi, kita bisa melupakan tugas, pekerjaan, bahkan makan dan tidur.

Cerita Death Note


sebenarnya sudah agak basi juga kalau baru membahas film ini sekarang. mau apa lagi, filmnya sendiri dirilis di negara asalnya pada 2006, tidak lama setelah prekuelnya, yaitu Death Note: The Movie (review-nya sempat ditulis di sini beberapa waktu yang lalu) yang sempat nongkrong di puncak box-office jepang dengan sambutan yang sangat baik dari publik negara asalnya.
duh, langsung aja deh 2 the point..

film ini adalah bagian terakhir dari dua bagian Death Note yang diangkat ke dalam film, atau mungkin lebih tepatnya layar lebar. dalam film ini, anda juga akan menemukan akhir dari saling buru antara KIRA dan L, dengan teknik dan taktik yang mungkin akan membuat anda geleng-geleng kepala sendiri.
sebenarnya, tidak tepat juga kalau film ini dikatakan sebagai sekuel dari film pertamanya, yaitu Death Note: The Movie. 

sederhananya sih, film ini akan menjadi terlalu panjang kalau keduanya jalan cerita digabungkan dalam sebuah film… dan dengan demikian, jadilah cerita yang cukup kompleks ini dirilis sebagai dua buah film yaitu Death Note, yang kemudian diikuti oleh The Last Name.

ceritanya sendiri melanjutkan tepat setelah akhir film pertama, di mana Yagami Raito berperan sebagai KIRA yang melakukan pembunuhan secara misterius dengan Death Note terhadap kriminal-kriminal yang ada di seluruh dunia. sementara itu, detektif misterius yang dikenal sebagai L masih memburu KIRA, dengan adu cerdas dan saling pasang trik antara keduanya yang ditampilkan dengan baik sampai akhir film ini.

dalam film ini, dikisahkan bahwa Yagami Raito telah bergabung ke dalam pasukan khusus yang dibentuk untuk memburu KIRA, di mana di dalamnya adalah L yang tampaknya sudah memiliki kecurigaan tersendiri terhadap Raito sebagai KIRA. saling buru dan persaingan keduanya terus berlanjut dalam ‘kerjasama’ mereka, sementara di luar sana tampaknya ada KIRA lain yang juga memiliki Death Note, menghabisi kriminal-kriminal yang tidak tersentuh jerat hukum…persis merupakan kelanjutan dari Death Note, The Last Name menawarkan menu yang tidak jauh berbeda: masih ada ide yang ‘absurd’ mengenai keberadaan Shinigami dan buku catatan kematiannya, dan aturan-aturan lain yang tak kalah ‘absurd’-nya mengenai penggunaan buku yang dikenal sebagai Death Note tersebut. jadi kalau anda sudah berpikir bahwa ide dasar dari film pertamanya saja sudah ‘absurd’, anda akan menemukan ke-’absurd’-an yang lebih aneh lagi di The Last Name.

bagian lain dari menu yang ditawarkan film ini adalah suspense dan thriller yang masih layak dipuji, tidak jauh berbeda dari film pertamanya. mengutamakan adu taktik dan saling pasang perangkap antara KIRA dan L, kekuatan utama film ini memang terletak pada jalan cerita yang ditawarkan. dengan ramuan yang tidak jauh berbeda dari film pertamanya, kali ini perseteruan antara Raito dan L digambarkan dengan lebih intens dalam operasi ‘pengejaran’ terhadap KIRA.

meskipun demikian, suspense dalam konflik yang memang pada dasarnya sudah menjadi nilai tambah dari film pertamanya kini diperkeruh lagi dengan kemunculan tokoh KIRA yang lain lagi di luar sana, selain Yagami Raito yang sudah diceritakan di film pertama. hasilnya? thriller yang cukup memikat dan mampu membuat pemirsa bertahan menonton sampai film berakhir.

sementara itu terdapat perbedaan yang signifikan dari segi cerita dibandingkan dalam versi manga-nya. ada beberapa karakter yang ditampilkan, demikian juga konklusi dari cerita disajikan secara berbeda. anda yang sudah membaca manga-nya sampai selesai mungkin akan menemukan perbedaan yang signifikan mengenai jalan cerita dan penyelesaiannya, dan tampaknya hal tersebut memang dimaksudkan demikian dalam pembuatan film ini.masih dari storyline, jalan cerita disampaikan dengan lebih realistis (dan dengan beberapa perbedaan signifikan) dibandingkan versi manga-nya. cerita dalam film ini mengalir dengan relatif mulus… yah, di luar konsep dasar yang memang pada dasarnya ‘absurd’, film ini menawarkan suspense yang jauh dari membosankan. meskipun demikian, anda yang mengikuti serial manga dari Death Note mungkin akan menemukan bahwa ada perbedaan yang cukup mendasar dari segi cerita antara The Last Name dengan akhir cerita dari versi manga-nya.

bagusnya adalah, film ini tampil dengan lebih realistis daripada versi manga-nya. pendekatan dan eksplorasi karakter dilakukan secara manusiawi, walaupun dalam beberapa bagian terlihat agak kedodoran. Yagami Raito digambarkan sebagai sosok yang tampak lebih ’sakit’ dibandingkan film pertamanya. L masih dengan sikap yang sedikit ‘aneh’, namun toh tampak lebih ‘normal’ dibandingkan dengan versi manga-nya.

karakter lain yang juga signifikan adalah Amane Misa yang diperkenalkan sebagai Second KIRA, yang entah kenapa terasa agak terlalu ‘biasa’ dalam film ini. demikian juga Takada Kiyomi dengan peran sebagai Third KIRA yang seharusnya lebih dieksplorasi, terasa lebih sebagai karakter tempelan dalam film ini. oh well… setidaknya film ini adalah panggung saling buru antara L dan Raito, dan dengan demikian karakter lain seolah menjadi kekurangan tempat. meskipun demikian, dalam hal tersebut film ini tidak bisa dikatakan buruk juga, sih.

penggunaan CG untuk menggambarkan karakter para Shinigami dilakukan dengan baik, dan justru menjadi karakter yang paling pas dari segi visualisasi terhadap versi manga-nya. karakter-karakter lain digambarkan lebih sebagai figuran, dengan perbedaan bahwa ada karakter-karakter yang muncul di manga dan tidak tampil dalam film ini. perbedaan karakter yang muncul ini tampaknya diakibatkan oleh jalan cerita yang memang sedikit berbeda dibandingkan versi manga-nya, dan menghasilkan akhir cerita yang berbeda pula.

well, di luar kenyataan bahwa logika di beberapa bagian yang terasa agak kurang pas, toh film ini bisa dinikmati dengan baik. lagipula, tidak ada gunanya juga ‘menggugat’ film ini, karena film ini sempat nongkrong di box-office negara asalnya selama empat minggu berturut-turut, dan menjadi catatan tersendiri dari sebuah film yang diangkat dari serial manga.

meskipun demikian, toh dengan segala catatan tersebut film ini tampil menghibur… walaupun mungkin anda akan perlu sedikit me-’minggir’-kan pikiran anda yang akan menganggap ide film ini sebagai ‘absurd’, sebelum memutuskan untuk mulai menonton.Death Note adalah judul sebuah serial manga Jepang yang ditulis oleh Tsugumi Ohba dan ilustrasi oleh Takeshi Obata. Manga ini menceritakan tentang Light Yagami, seorang siswa jenius yang secara kebetulan menemukan “Death Note” milik shinigami (dewa kematian)

Dalam versi layar lebarnya, Death Note dibagi menjadi dua bagian, yaitu Death Note dan Death Note The Last Name.
Cerita Death Note berawal ketika Light Yagami (Raito Yagami) menemukan sebuah buku yang ternyata milik Shinigami bernama Ryukk (Ryuku). Di dalam Death Note milik Ryuku, terdapat cara menggunakan Death Note yang ditulis olehnya sendiri. Death Note ini kemudian digunakan untuk mewujudkan idealismenya yaitu untuk menciptakan dunia baru yang bersih dari kejahatan, dengan dirinya sebagai Dewa.

Kemudian Death Note ini dia gunakan untuk membunuh para kriminal. Mendapatkan data para kriminal dari televisi maupun mencuri data kepolisian pusat (ayahnya, Shouichiro Yagami adalah seorang polisi). Ternyata tindakannya ini mengundang berbagai reaksi, baik dari masyarakat, para petinggi Jepang, bahkan dari para petinggi internasional. Kebanyakan masyarakat setuju dengan tindakan pembersihan dunia itu, namun para petinggi tidak menyetujuinya karena tindakan tersebut bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Tidak hanya itu hambatan yang ditemui Raito (yang dijuluki Kira, sebutan untuk Killer dalam dialek Jepang) untuk mewujudkan dunia yang bersih, dia juga harus berhadapan dengan L yang selanjutnya dikenal dengan nama Ryuzaki (nama aslinya sampai akhir cerita tidak diketahui). L adalah seorang detektif profesional muda bertaraf internasional yang hanya bergerak di belakang layar. Setelah bertemu L, jalan cerita “Death Note” menjadi semakin menarik (ditambah dengan munculnya Kira II dan Kira III dalam versi manganya).

Dalam versi layar lebarnya, tokoh Raito Yagami diperankan oleh aktor muda Tatsuya Fujiwara, sedangkan tokoh L diperankan oleh Kenichi Matsuyama.

Cerita berawal dari Light Yagami (Raito Yagami), yang menmukan sebuah buku milik Shinigami bernama Ryuk, di dalam DEATH NOTE milik Ryuk terdapat “HOW TO USE” yaitu cara memakai buku tersebu, dimana buku tersebut dapat membunuh orang lain dengan menuliskan namanya pada buku tersebut. DEATH NOTE ini kemudian digunakan untuk mewujudkan idealismenya yaitu untuk menciptakan dunia yang bersih dari kejahatan, dengan dirinya sebagai dewa kematian.



Senin, 26 Maret 2012


Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.


Dunia Wayang dan Politik : POLITIK DALAM PERGELARAN WAYANG

tugas yg dikasih Pak Eddy di DaDaIBu ( Dasar-dasar Ilmu Budaya), bikin paper ttg dunia wayang dan politik.. ini hasilnya. lay outnya agak berubah sih, trus juga ada bagian yg dipotong dikit, soalnya kepanjangan.. hehehehe :D yah, pokoknya inilah hasil kerja dari jam 8 malam sampe jam 3 pagi!! BAGI PARA PEMBACA, aku sangat ngarep kritik dan saran YANG MEMBANGUN yah… :D 
BAB I
PENDAHULUAN
I.Latar Belakang
A. Pengertian Wayang
Wayang merupakan sebuah kata yang sulit diterjemahkan. Wayang dapat berarti bayangan’ atau ‘gambar’ atau ‘citraan’. Wayang melukiskan manusia, binatang, atau raksasa, dan tokoh berbudi halus, kuat dan lucu. Setiap tokoh yang menonjol dalam kisah pewayangan memiliki ragam atau wanda. Wanda adalah penggambaran watak untuk megungkapkan perasaan dan keadaan tertentu. Wanda dapat dilihat dari ‘tundukan’ kepala, badan, lekukan mata dan mulut, jarak antara mata dan alis, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.
B. Sejarah Singkat Wayang Kulit Gaya Yogyakarta
Untuk melacak sejarah tentang tatahan wayang kulit, karya-karya sastralah yang harus dipelajari. Pada masa pemerintahan Raja Erlangga, Empu Kanwa telah menghasilkan sebuah karya sastra berupa buku atau serat yang berjudul Harjuna Wiwaha. Dalam salah satu bait dalam serat tersebut disebutkan kata walulang inukir. Walulang artinya kulit binatang, sedangkan inukir berarti diukir atau ditatah. Berdasar informasi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu telah dikenal kulit yang diukir yang disebut ringgit yang pengertiannya sama dengan wayang.
Hingga masa Majapahit berakhir belum ditemukan sumber informasi yang menerangkan tentang sejarah tatah wayang kulit. Namun pada zaman Madya, yaitu masa di mana agama Islam mulai berpengaruh di Jawa, ada beberapa sumber yang berkaitan dengan masalah wayang kulit. Pada masa tersebut wayang telah dibuat dari bahan utama kulit kerbau, sedangkan bahan pewarna putih dan pekatnya dibuat dari tulang binatang tersebut.
Wayang pada zaman Majapahit hanya digambar di atas kertas atau kain lalu diberi warna, setelah mengalami perubahan dalam penggunaan bahan tentunya perubahan tersebut diiringi dengan perubahan teknik yang sesuai dengan bahan yang digunakan. Teknik menatah wayang kulit diduga sebagai hasil adopsi dari teknik mengukir kayu. Pada masa kerajaan Demak wayang kulit digambar miring dan dibuat irisan ( tangan menjadi satu dengan badan). Pada masa kerajaan Pajang wayang kulit disempurnakan dengan menambah berbagai busana dan penambahan tokoh binatang hutan. Saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Mas Jolang, wayang kulit digapit dengan baik, dibuat senjata seperti panah, keris dan senjata tajam lainnya. Pada masa itu mulai dibuat tokoh dagelan. Pada waktu Mataram di Kartasura, wayang kulit disempurnakan lagi dengan memakai punakawan Bagong, para dewa memakai selendang, sepatu dan sebagainya. Sejak saat itu wayang kulit terus disempurnakan hingga menjadi wayang kulit seperti yang ada sekarang.
C.Jenis Wayang
Ada beberapa jenis wayang yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia akan tetapi karena keterbatasan tempat, dalam makalah ini Penulis hanya akan membahas tentang Wayang Purwa Jawa dan Wayang Gubahan Baru.
1.Wayang Purwa Jawa
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan wayang kulit terkenal di Jawa yang dalam usianya yang sangat tua mampu bertahan dalam perjalanan waktu, menyesuaikan dengan ide dan kebutuhan zaman. Wayang Purwa memiliki banyak fungsi, antara lain :
(dulu) sebagai alat pemujaan nenek moyang
alat pengajaran keagamaan
alat pendidikan dan penerangan
alat penanaman tolak ukuran moral
sumber hiburan, dll.
Wayang kulit purwa merupakan boneka datar dwimatra yang terbuat dari kulit kerbau yang kemudian diukir secara rumit dan diwarnai, serta dilengkapi tangkai penyangga di tengah dan gagang dari tanduk kerbau untuk memainkannya. Seperangkat wayang purwa dapat terdiri atas 150 hingga 300 boneka yang menggambarkan dewa, manusia, raksasa, satwa dan lambang alam yang disimpan dalam kotak.
Bayangan digerakkan di kelir ( layar ) berwarna putih dengan bingkai merah atau hitam. Sebuah gedebog pisang direbahkan di dasar kelir untuk menancapkan wayang. Sebuah blencong ( lampu minyak ) digantung di atas dalang. Pengiring berupa gamelan Jawa yang ditambah dengan penekanan keprak ( penanda yang dibunyikan dengan pemukul kayu cempaka). Gedebog pisang juga diletakkan di sisi kanan dan kiri layar untuk menancapkan susunan wayang yang tidak dipakai dalam pertunjukan. Susunan wayang tersebut disebut simpingan dan berfungsi sebagai hiasan tambahan.
Pementasan wayang biasa diadakan dalam berbagai acara keluarga dan sosial. Wayang juga dipentaskan pada upacara adat dalam hubungan kebatinan – keagamaan seperti ruwatan, nadaran, dan bersih desa. Pertunjukan wayang juga sering digelar untuk acara pemerintah atau lembaga sosial untuk menyampaikan pesan atau penerangan, juga untuk menyampaikan pesan pembangunan nasional.
2.Wayang Gubahan Baru
Beberapa jenis wayang gubahan baru yang diterima dengan baik di kalangan masyarakat dan berhubungan dengan pemerintahan dan keadaan sosial, yaitu :
a. Wayang Suluh
Pada tahun 1950 genre baru ini digunakan oleh Departemen Penerangan untuk menyebarkan penerangan pemerintah. Seiring dengan waktu, jenis wayang ini berkembang menjadi teater rakyat berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Boneka wayang suluh terbuat dari kulit kerbau atau sapi, sedangkan tokoh-tokoh diperlihatkan dalam raut wajah. Boneka-boneka menggambarkan laki-laki dan perempuan modern yang mengenakan pakaian sehari-hari, tergantung tokoh yang digambarkan.Pementasan wayang suluh biasanya menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa pergerakan nasional Indonesia.
b. Wayang Revolusi
Pada masa revolusi ( 1945 – 1949 ) pemerintah nasional Indonesia menggunakan wayang sebagai sarana penerangan sebab pada masa itu alat-alat penerangan seperti radio dan koran dikuasai oleh Belanda. Boneka dalam wayang revolusi menggambarkan berbagai tokoh kontemporer, seperti Soekarno, Nehru, para pejuang, Belanda, dan rakyat. Cerita yang disuguhkan dalam pertunjukan wayang revolusi diambil dari kejadian nyata yang terjadi pada masa itu. Sayangnya wayang revolusi tidak lagi terkenal setelah berakhirnya masa revolusi.
II.Tujuan
Tujuan ditulisnya makalah ini antara lain untuk :
1.Mengetahui ada atau tidaknya hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik.
2.Dapat mengidentifikasi hubungan kesenian tradisional wayang dengan politik, jika memang dua hal tersebut ada kaitannya.
3.Memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya dengan dosen pengajar Eddy Pursubayanto, Drs., Dipl. Tesl., M. Hum sebagai pengganti nilai Ujian Tengah Semester I tahun 2007 / 2008
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Dalam bagian rumusan masalah ini Penulis mengungkapkan beberapa pertanyaan mengenai hubungan atara wayang dan politik.
1.Adakah unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan? Jelaskan!
2.Apakah kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia?
3.Dapatkah pergelaran wayang dimanfaatkan untuk kepentingan politik?
4.Bagaimanakah pemanfaatan pergelaran wayang untuk kehidupan politik di negara kita?
5.Apakah semua dalang dapat menggunakan pergelaran wayang sebagai alat politik?
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam bagian pembahasan ini, Penulis akan menjawab masalah-masalah yang ada pada bab sebelumnya berdasarkan pada buku referensi dan hasil wawancara yang telah dilakukan.
1.Untuk menjawab pertanyaan pertama, Penulis mencoba membuat analisa sebagai berikut :
Suasana politik sangat jelas terasa dalam kisa-kisah pewayangan klasik seperti kisah Mahabharata dan Ramayana mengingat latar belakang dan setting kedua cerita tersebut adalah setting kerajaan. Isi cerita dalam kisah-kisah pewayangan itu pun sangat erat hubungannya dengan politik kerajaan seperti perebutan kekuasaan, perluasan daerah kekuasaan, jalannya pemerintahan, hingga konflik-konflik politik yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perangkat politik kerajaan dari rakyat, ajudan, prajurit, hingga menteri dan raja pun dapat ditemui dalam kisah-kisah pewayangan klasik.
Dalam jenis-jenis wayang gubahan baru yang masih bercerita mengenai kehidupan bernegara juga dapat dirasakan suasana politik yang kental. Perbedaannya dengan kisah pewayangan klasik adalah dalam seri pewayangan kontemporer, kehidupan politik yang diangkat sebagai cerita bukanlah politik kerajaan melainkan politik kenegaraan berbentuk republik yang sesuai dengan keadaan dalam kehidupan nyata. Konflik, kritikan, dan perangkat politik negara merupakan sumber cerita jenis wayang gubahan baru seperti jenis Wayang Revolusi dan Wayang Suluh.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa keberadaan unsur-unsur politik dalam kisah pewayangan tidak perlu diragukan lagi.
2.Salah satu jenis wayang gubahan baru yang diciptakan sesudah kemerdekaan oleh Harsono Hadisoeseno, dalang dan pernah menjabat sebagai pimpinan dinas penerangan pemerintah adalah Wayang Pancasila. Dalam Wayang Pancasila, Pandawa Lima, tokoh utama dalam cerita Mahabharata dijadikan lambang dari lima sidal dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.
Sebuah jenis wayang gubahan baru lain yaitu Wayang Revolusi dimanfaatkan sebagai sarana perlawanan politik terhadap Belanda yang dilakukan secara halus pada masa revolusi melalui cerita-ceritanya. Kedua jenis wayang gubahan baru di atas merupakan contoh-contoh bukti adanya kaitan kisah pewayangan dengan politik negara Indonesia.
3.Seperti yang kita tahu, masyarakat kita masih familier dengan kebudayaan tradisional mereka masing-masing. Wayang, khususnya di Jawa, termasuk salah satu jenis kebudayaan tradisional yang sangat populer dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan kisah yang tidak asing lagi dan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat di sekitarnya, sebuah pergelaran wayang sangat berpotensi untuk menarik penonton. Para penonton pergelaran wayang biasanya akan mengingat pergelaran wayang yang mereka saksikan, mungkin membanding-bandingkannya dengan pergelaran wayang lain yang pernah mereka saksikan, bahkan membicarakan isi pergelaran wayang dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini menyebabkan kemudahan dalam menyampaikan pesan terselubung dalam suatu kisah yang disajikan dalam sebuah pergelaran wayang kepada para penontonnya. Pesan terselubung tersebut kadang-kadang merupakan pesan-pesan politik dari pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat, maupun sebaliknya.
4.Mengingat mudahnya proses transfer informasi melalui pergelaran wayang, pemanfaatan pergelaran wayang yang kemungkinan besar dilakukan untuk kepentingan kehidupan politik negara kita antara lain :
a. Penyampaian dari rakyat ke pemerintah maupun dari pemerintah ke rakyat mengenai kehidupan politik negara secara halus
b. Sebagai sarana kritik sosial politik yang ditujukan untuk pemerintah
c. Sarana partai politik untuk menyiarkan pendapat, anjuran,dan saran guna mengumpulkan pengikut bagi partai politik tersebut (propaganda).
5.Untuk dapat mengemukakan suatu masalah, seseorang harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai tentang masalah tersebut. Pengetahuan dan wawasan dapat diperoleh dari pengalaman, penelitian, observasi, maupun pengamatan. Begitu juga dengan dalang-dalang yang akan mengangkat masalah politik ke dalam pergelaran wayangnya. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan sembarangan mengingat masalah politik merupakan masalah yang sangat sensitif. Karena kesensitifannya tersebut, tidak semua dalang dapat dengan begitu saja memasukkan pesan-pesan politik ke dalam cerita wayang yang akan ditampilkan. Dalang-dalang yang berniat menggunakan pergelaran wayangnya sebagai alat politik harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah politik dan dapat menyampaikan pesan politik yang terkandung dalam pergelarannya secara halus sehingga tidak akan menyinggung pihak manapun.
BAB IV
KESIMPULAN
Melihat masalah yang muncul dan pembahasan yang mengikutinya, Penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain :
1.Unsur-unsur politik dalam kisah-kisah pewayangan, baik pewayangan klasik maupun kontemporer, sangat jelas adanya.
2.Kisah pewayangan dengan kehidupan politik negara Indonesia sangat erat kaitannya, dibuktikan dengan beberapa unsur dalam dua jenis wayang gubahan baru, yaitu Wayang Pancasila dan Wayang Revolusi.
3.Melalui pergelaran wayang, dalang dapat menyampaikan berbagai informasi dengan mudah kepada para penontonnya. Salah satu pesan yang dapat dengan mudah disalurkan melalui pergelaran wayang adalah pesan politik.
4.Pergelaran wayang dimanfaatkan dalam beberapa aspek kehidupan politik, antara lain sebagai :
a. alat komunikasi politik
b. sarana propaganda partai politik
c. sarana penyampaian kritik sosial politik
5.Tidak semua dalang dapat mengangkat masalah politik dalam pergelaran wayangnya. Untuk melakukannya, seorang dalang harus memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang politik dan kecakapan dalam menyampaikan maksud secara halus agar tidak menyinggung pihak manapun.
BAB V
KEPUSTAKAAN
Djatikusuma & Judi Achjadi
“New Forms of Wayang”, in Performing Arts. (A series in Indonesian Heritage). Edited by Edi Sedyawati et al. Singapore : Archipelago Press. 1998.
Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jilid 3 [KLMNP].
Jakarta : Senawangi [Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia], 1999.
Sunarto & Sagio
“Wayang Kulit Gaya Yogyakarta : Bentuk dan Ceritanya”. Yogyakarta : Pemprop D.I.Y. Kantor Perwakilan D.I.Y. 2004.
Wawancara :
1.Ki Suharno, S.Sn.

Cinta Rahwana hanya untuk Sinta

Ini merupakan obrolan antar sahabat, saat sedang suntuk dan capek bekerja. Topiknya, sudah jelas mempertanyakan, apakah Rahwana itu raja yang jahat atau bukan? Bagi saya dan sejumlah sahabat, ini jelas merupakan dilema yang bisa menyebabkan saya dan beberapa sahabat saya dibenci orang. Sebabnya jelas, kita mencoba melihat Rahwana dari sisi dia sebagai manusia. Sebagian besar dari kita, umumnya melihat Rahwana sebagai tokoh yang jahat. Sedangkan Rama, sebagai orang baik yang dizalimi. Itu pandangan orang pada umumnya. Sedangkan dalam pandangan saya (dan beberapa sahabat saya lainnya), kita bisa bersikap begitu karena kita selalu menerima ‘wejangan’ dari orang tua kita, bahwa Rahwana itu orang jahat dan Rama orang baik. Kita bahkan menerima pandangan itu begitu saja, tanpa pernah mempertanyakan, apa saja kebaikan Rahwana dan apa pula keburukan Rama.
Dalam cerita Ramayana yang lazim disampaikan kepada kita, sesuai dengan pakem pewayangan, diceritakan bahwa Rahwana sangat ingin memperisteri Dewi Sinta. Padahal, Dewi Sinta saat itu sudah menjadi isteri Rama. Untuk itu, ia berupaya memperdaya Rama dan Laksmana, supaya bisa menculik Dewi Sinta. Penculikan itu berhasil sukses! Meskipun selama perjalanan Rahwana diserang oleh Jatayu, tetapi halangan itu bisa diatasinya, dan Dewi Sinta bisa diboyong Rahwana ke Alengkadiraja. Tiga tahun, Dewi Sinta ditawan di sebuah ‘keputren’, ditemani DewiTrijatha, adik Rahwana. Dan selama tiga tahun pula Rahwana selalu berusaha membujuk Dewi Sinta untuk bersedia menjadi permaisurinya. Segala upayanya untuk menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisuri, ditolak oleh Dewi Sinta secara halus. Jadi Rahwana sebenarnya dapat dikatakan gagal memperisteri Dewi Sinta. Bahkan, saat Rahwana agak kelewatan sikapnya, saat sedang membujuk Dewi Sinta, ia dihalangi oleh Dewi Trijatha, adiknya. Tentu saja Rahwana menjadi marah, dan Dewi Trijatha dikutuk oleh Rahwana. Kutukan Rahwana menyatakan, bahwa Dewi Trijatha akan mendapat jodoh jika sudah menjadi ‘perawan tua’ dan jodohnya adalah seorang wanara tua yang bertubuh pendek, jelek, dan buruk muka. Kutukan Rahwana ini, membuat Dewi Trijatha sedih berkepanjangan. Keinginan Rahwana untuk bisa menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisurinya, telah mengorbankan banyak hal, termasuk kekuasaan, keluarga, sanak saudara, dan kerajaan Alengka. Rahwana, akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran melawan Rama yang dibantu ribuan pasukan wanara (kera). Ia merupakan orang terakhir dari Kerajaan Alengka yang mati di medan laga, melawan musuh. itulah ringkasan seluruh cerita tentang Rahwana yang sangat terkenal itu.
Sekarang cobalah kita pahami barang sedikit cerita kebalikannya, ditinjau dari sisi Rahwana. Cobalah untuk mendinginkan kepala dan tidak emosional sewaktu membaca cerita ini. Tentu saja, cerita ini merupakan cerita imajiner, jadi gunakanlah juga imajinasi anda saat membacanya…..
Bayangkalah, Alengkadiraja adalah sebuah negara adidaya, yang terkenal sangat kaya dan makmur. Kerajaan ini, politiknya sangat stabil, keamanan di seluruh wilayah Kerajaan Alengkadiraja sangat terkendali dan sangat aman. Rakyatnya demikian sejahtera, sehingga banyak orang yang berasal dari manca negara, datang dan akhirnya tinggal bermukim di Kerajaan Alengkadiraja. Menurut sejarahnya, Kerajaan Alengkadiraja juga tidak pernah memperlakukan kerajaan-kerajaan di sekitar wilayahnya sebagai negara jajahan. Alengkadiraja juga tidak pernah menyerbu negara lain. Kerajaan Alengkadiraja, memang bukan sebuah negara demokratis seperti Amerika. Kerajaan Alengkadiraja, memang merupakan sebuah negara monarki (kerajaan), yang dipimpin oleh seorang diktator luar biasa besar dan sangat luas kekuasaannya, yang berjuluk Prabu Rahwana. Kerajaan besar ini, bahkan tidak memerlukan adanya Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuat berbagai undang-undang. Segala aturan dan undang-undang, cukup ditangani oleh Rahwana yang dibantu sejumlah pejabat tinggi kepercayaannya. Sejak Kerajaan Alengkadiraja berdiri, sampai akhirnya tumbang oleh serbuan para ‘monyet’ yang membantu Rama, tidak pernah ada berita negatif sedikitpun yang menyatakan bahwa Rahwana pernah berbuat menzalimi rakyatnya. Begitu juga para pejabat tingginya, selalu mempunyai ‘track record’ yang baik dan tidak tercela. Bagi rakyat di Kerajaan Alengkadiraja, pemerintahan diktatorial nyatanya justru jauh lebih baik dari pada pemerintahan demokratis yang centang-perenang dan tak jelas juntrungannya.
Rahwana sangat menginginkan Dewi Sinta sebagai permaisurinya. Sebagai manusia, itu merupakan hal yang wajar. Namanya juga naksir. Salahnya, Dewi Sinta sudah menjadi isteri orang lain. Bahwa Rahwana menculik Dewi Sinta, itu memang kesalahan fatal. Tapi bagaimana lagi? Namanya juga usaha! Apalagi dilandasi rasa cinta yang membara. Segala cara bisa ditempuh. Kalau nggak begitu, kan malah dipertanyakan orang, seberapa besar cintanya? Kan kata pepatah juga menyatakan bahwa ‘cinta itu buta’. Bahkan cinta itu, mudah indikasinya. Orang yang benar-benar cinta, akan berada pada kondisi hilang akal dan hilang ingatan. Kalau masih bisa berpikir jernih dan tidak hilang akal, pastilah orang itu tidak benar-benar jatuh cinta. Mungkin hanya pura-pura jatuh cinta. Kalau tidak hilang ingatan (terhadap banyak hal), pastilah orang itu juga tidak jatuh cinta. Cobalah renungkan saat anda dulu jatuh cinta. Apakah benar anda tidak hilang akal dan hilang ingatan? Contohnya, saat anda jatuh cinta, bukankah anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat? Segala kecanggihan diri anda tiba-tiba lenyap begitu saja, saat berhadapan dan bertemu dengan wanita idaman anda. Saat anda jatuh cinta dulu, bukankah anda juga hilang ingatan? Lupa daratan, lupa makan, lupa tidur, dan bahkan lupa segalanya. Anda hanya bisa mengingat satu hal saja. Yaitu wanita idaman anda! Hal lainnya? Tentu saja anda lupakan. Ingatan anda tentang nasehat orang tua yang mengatakan bahwa hidup harus berhati-hati, juga bisa anda abaikan seketika. Anda tiba-tiba berubah menjadi manusia yang berani mati demi sang pujaan hati. Woooooo….. luar biasa! Jatuh cinta, ternyata bisa mengubah segalanya……..
Begitu juga dengan Raja Rahwana yang julukan aslinya adalah ‘King of Forest Blood’, dari sebuah kerajaan adidaya yang sangat terkenal di seantero jagat maya dengan sebutan ‘The Great Alengka Kingdom’. Rahwana, seorang ‘manusia berdarah rimba raya’ telah jatuh cinta! Ini merupakan suatu fenomena dan peristiwa yang sangat luar biasa yang amat sangat langka, yang diliput oleh semua stasiun televisi di seluruh dunia sebagai sebuah peristiwa besar! Ia telah dinobatkan menjadi ‘the greatest man of the year’, yang selalu ditayangkan dalam bentuk ‘headline’ di semua surat-kabar, majalah, harian lokal dan internasional, internet, stasiun televisi, stasiun radio dalam negeri dan manca negara.
Seorang Rahwana yang semula lebih dikenal sebagai penguasa sebuah kerajaan adidaya yang sangat jarang tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria yang berdandan necis dan ‘dandy’, dengan pakaian keluaran rumah mode terkenal, bergaya mode mutakhir, dengan potongan rambut yang sedang trendy. Semua orang jadi memperhatikan Rahwana yang sedang menjadi pokok pembicaraan di mana-mana. Bahkan sejumlah anak muda Alengkadiraja yang sebelumnya cenderung menjauhinya, tiba-tiba secara sangat antusias dan bersuka hati, membentuk sebuah organisasi komunitas sosial yang dinamakan ‘Rahwana Fans Club’. Majalah mode manca negara yang sangat terkenal, lantas memuat foto-foto kegiatan sehari-hari Rahwana dan menobatkannya menjadi ‘The man who give new inspiration to other peoples’.
Jangan lupa, Rahwana memang sudah ‘sugih’ (kaya raya) dari sononya. Jadi, ia jelas bukan seorang koruptor. Saat pergi ke Istana Negara Alengkadiraja, ia mengendarai mobil sport merk Jaguar model terbaru. Pakai mobil Jepang? No way! Mobil bikinan Jepang kurang keren, katanya dalam suatu wawancara eksklusif dengan sejumlah wartawan. Tanpa sungkan ia juga bercerita, bahwa ia sekarang punya kebiasaan baru, yaitu selalu membuka semua jendela dan kap atas mobilnya, jika sedang melakukan perjalanan memakai mobil Jaguar-nya. Ia, selalu melambaikan tangan sambil menebar senyum gembira kepada seluruh rakyatnya yang selalu menantikannya di pinggir jalan, saat rombongan mobil kerajaan itu lewat di jalan protokol Kerajaan Alengkadiraja. Suasana itu, juga menjalar ke Istana Kenegaraan Alengkadiraja. Suasana istana yang semula terlihat angker, formal, resmi, dan kaku; lalu berubah menjadi sebuah istana yang menyenangkan, indah, ceria, selalu penuh bunga.
Berbagai pagelaran wayang kulit, wayang wong, wayang klithik, musik keroncong, jaipongan, wayang golek, orkestra, band musik pop, musik klasik, jazz, rock, dan blues; lantas menjadi pagelaran yang secara rutin menghias pendhapa istana Alengkadiraja. Hanya musik kamar (chamber music) yang tetap tidak diijinkan Rahwana main di istana. “Musik kamar terlalu berisik, kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit. Saya bisa jadi ‘budheg’ (tuli)! Kan saya hanya menonton dengan beberapa sahabat. Jadi kurang siplah kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit di istana,” begitu kata Rahwana, seperti dikutip oleh sejumlah wartawan istana.
Tetapi jika ada wartawan yang bertanya tentang Dewi Sinta yang menurut kabar angin, selentingan, dan gosip; telah diculik dan dijadikan tawanan jelita, Rahwana selalu diam terpaku dan selalu menjawab “no comment”. Sangat nyata terlihat di air mukanya, betapa pertanyaan seperti itu telah melukai perasaannya. Menurut berita-berita yang santer dibocorkan oleh sejumlah pejabat istana Alengkadiraja, Rahwana akhir-akhir ini sering terlihat duduk termenung sendu, saat sedang sendirian di Istana Alengkadiraja. Meskipun masyarakat Alengkadiraja melihat Rahwana sebagai manusia yang sehari-hari terlihat gembira, penuh senyum, dan seringkali menyapa rakyatnya dengan tebaran senyumnya yang sangat khas, tetapi di balik itu semua ia ternyata menyimpan kesedihan luar biasa. Dan, justru karena Rahwana merupakan penguasa tertinggi di Kerajaan Alengkadiraja, maka tidak ada yang berani menanyakan kepadanya tentang apa yang telah membuatnya gundah dan bersedih. Banyak orang hanya menebak-nebak saja di dalam hati dan tidak pernah berani mengungkapkkannya secara terbuka, takut melukai hati orang yang menjadi pujaannya itu.
Diam-diam, tanpa terungkap di media massa, dan tanpa pernah dipublikasikan; ternyata banyak juga rakyat Alengkadiraja yang ikut merasa sedih atas apa yang sedang menimpa Rahwana, raja yang sangat dihormati rakyatnya itu. Pendapat mereka, umumnya terpecah menjadi dua. Sebagian mengatakan bahwa Rahwana sebagai seorang raja besar, tidak sepatutya menculik Dewi Sinta, meskipun ia sangat mencintainya. Tetapi, sebagian lagi, merasa bahwa seorang Rahwana adalah seorang laki-laki sejati, yang berani mengambil risiko apapun demi cinta matinya kepada Dewi Sinta, meskipun mereka juga tahu bahwa tindakan itu salah. Tetapi, secara umum, rakyat Alengkadiraja tetap berpendapat bahwa bagaimanapun juga, Rahwana adalah laki-laki sejati, yang menjadi dambaan setiap wanita. Ia dimimpikan oleh banyak wanita, karena keteguhan dan ketegaran sikapnya. Tidak banyak wanita Alengkadiraja yang mempunyai kekasih atau suami seperti Rahwana, yaitu jika sudah jatuh cinta, apapun rintangannya akan diterjang, apapun penghalangnya akan dilibas, dan apapun akan dilakukan demi cintanya kepada pujaan hatinya. Rahwana sebenarnya adalah seorang laki-laki ideal pujaan hati wanita…..
Tiga tahun sudah, Dewi Sinta disekap di dalam ‘keputren’ Alengkadiraja, ditemani Dewi Trijatha yang setia. Setiap hari, Rahwana selalu datang mengunjunginya dan dengan kata-kata yang selalu diusahakan diucapkan sehalus mungkin, selalu ditanyakannya kepada Dewi Sinta, apakah ia bersedia dipersunting dirinya dan dijadikan permaisuri, menjadi Ibu Negara Alengkadiraja. Dinyatakannya juga, bahwa ia hanya mempunyai satu cinta, dan cinta itu telah dipersembahkannya kepada  Dewi Sinta. Setiap kali Rahwana berhadapan dengan Dewi Sinta, ia seperti hilang akal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia merasa seakan semua kekuasaan yang dimilikinya menjadi sama sekali tidak berarti di mata Dewi Sinta. Rahwana selalu berkata, bahwa ia menculik Dewi Sinta karena rasa cintanya yang tiada tara. Untuk tindakannya itu, Rahwana selalu meminta maaf kepada Dewi Sinta. Ia juga selalu mengatakan kepada Dewi Sinta, bahwa ia bersedia berkorban apa saja, asalkan Dewi Sinta bersedia dimuliakan dan dipersunting menjadi permaisurinya. Namun, setiap kali ia bertanya kepada Dewi Sinta, Rahwana selalu mendapat jawaban menolak, yang membuat hatinya remuk redam. Tiap kali Rahwana mendapat jawaban penolakan seperti itu, setiap kali pula ia terdiam. Dan, perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan Dewi Sinta sendirian tanpa mengucapkan sepata katapun. Begitulah yang terjadi setiap kali dan setiap hari. Rahwana selalu menerima jawaban yang membuatnya merasa seakan dunia hendak kiamat. Tetapi, entah mengapa, tiap kali Rahwana selalu kembali memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang sama. Meskipun ia tahu benar, jawaban yang akan diterimanya akan selalu sama, yaitu berupa jawaban menolak. Tetapi, manusia hidup dari harapan dan mimpi. Selama harapan dan mimpi itu belum pudar, maka selama itu pula manusia bisa berharap bahwa mimpinya suatu ketika akan menjadi kenyataan. Karena itu pula, Rahwana selalu kembali menguatkan dirinya untuk selalu datang bertanya kepada Dewi Sinta. Meskipun ia sangat sadar, bahwa harga dirinya sebagai laki-laki, sebenarnya sudah hancur. Rahwana telah mengambil risiko mengorbankan harga dirinya, demi cintanya kepada Dewi Sinta. Tetapi Rahwana menganggap hal itu sebagai sebuah konsekuensi logis yang harus ditanggungnya. Dalam pandangannya, harga dirinya akan pulih secara perlahan-lahan, jika ia berhasil mempersunting Dewi Sinta, dan mempersembahkannya kepada rakyatnya untuk dimuliakan sebagai seorang Ibu Negara.
Rahwana bukanlah seorang penyair, yang bisa menulis puisi jika hatinya sedang gundah. Ia juga bukan seorang penyanyi, yang bisa membuat tembang balada jika hatinya sedang sedih. Ia juga bukan seorang sastrawan, yang bisa mencurahkan isi hatinya ke dalam bentuk karya sastra, saat ia memikirkan pujaan hatinya. Pada saat-saat seperti itu, Rahwana bahkan merasa sendirian, kesepian, dan seperti sama sekali tak berteman. Ia merasa sendirian di tengah keramaian dunia. Di tempat yang sangat ramai sekalipun, ia merasa tetap kesepian. Ia selalu memimpikan bisa bergandeng tangan dengan mesra, bercengkerama, berjalan berdua dengan Dewi Sinta, sambil menyapa lambaian tangan rakyatnya. Mimpi-mimpi itulah yang selalu datang setiap malam, dan membuat hatinya kuat untuk kembali menemui Dewi Sinta pada esok hari berikutnya.
Selama tiga tahun, Dewi Sinta hampir setiap hari bertemu dengan Rahwana. Selama itu pula, ia tidak pernah disentuh atau dijamah sekalipun oleh Rahwana. Meskipun ada rasa rindu yang menggebu-gebu kepada Rama, tetapi sebagai wanita dewasa Dewi Sinta juga sering mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya ia bersikap. Secara jujur Dewi Sinta juga mengakui di dalam hati (hal ini secara diam-diam juga sering diutarakan kepada Dewi Trijatha), bahwa Rahwana dipandang dari satu segi, memang telah melakukan kejahatan, yaitu menculik dirinya. Namun, dari segi lainnya, selama tiga tahun disekap itu, ia selalu mendapat perlakuan yang sangat baik dan sopan oleh Rahwana. Dari berita dan cerita yang diterimanya dari berbagai pihak secara sembunyi-sembunyi, Dewi Sinta juga mendengar berbagai kabar tentang Rahwana. Sebagian besar kabar yang diterimanya itu, menceritakan bahwa Rahwana telah berubah menjadi orang yang gembira, penuh senyum, dan bahkan suasana istana sudah sangat berubah. Semua berita tentang Rahwana, ternyata merupakan berita yang sangat positif. Dewi Sinta sebenarnya juga berpikir, bahwa jika Rahwana benar-benar orang jahat, maka pada hari pertama saat ia diculik, bisa saja ia langsung diperkosa dan ditinggalkan begitu saja oleh Rahwana. Tetapi kenyataannya, Dewi Sinta tidak pernah mengalami hal itu. Bahkan selama disekap di ‘keputren’ Alengkadiraja, disentuh atau dijamahpun tidak pernah dilakukan Rahwana.
Saat Rahwana berkunjung, ia selalu menyatakan cintanya dan menanyakan kesediaannya untuk dipersunting menjadi permaisuri. Dan saat ia mengatakan penolakannya, Dewi Sinta selalu melihat, betapa air muka Rahwana yang seketika berubah menjadi sendu. Setiap kali Dewi Sinta mengatakan penolakannya, setiap kali pula Rahwana terdiam tak bisa berkata-kata. Dan, akhirnya Rahwana selalu berjalan perlahan-lahan meninggalkannya sendirian. Ada perasaan galau bercampur kasihan pada diri Dewi Sinta, setiap kali Rahwana perlahan-lahan pergi meninggalkannya sendirian.
Dewi Sinta juga sering berpikir dan mempertanyakan kepada dirinya sendiri, tentang Rama kekasihnya. Ia juga sudah mendengar kabar yang diselundupkan dari Ayudia. Semakin lama, serpihan demi serpihan kabar dari Ayudia itu semakin lengkap. Sehingga akhirnya Dewi Sinta bisa mengumpulkan seluruh serpihan berita itu secara lengkap, sehingga Dewi Sinta akhirnya bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi selepas penculikan atas dirinya. Meskipun hanya selintas, Dewi Sinta juga sering memikirkan mengapa Rama kekasih hatinya itu, tidak juga datang menolongnya? Apa yang telah terjadi?
Setelah tiga tahun ia tinggal di Alengkadiraja, Dewi Sinta juga seringkali berpikir, bagaimana seharusnya sikap seorang suami jika isterinya diculik. Di dalam benaknya, timbul sejumlah logika yang saling berbalikan. Secara logika, jika seorang laki-laki sangat mencintai isterinya, dan tiba-tiba isterinya diculik, maka yang yang dilakukannya adalah segera mengejar dan berusaha mencari isterinya. Tetapi dari berita-berita yang diterimanya, Rama ternyata tidak segera melakukan upaya mencari dirinya. Bukankah ia titisan Dewa Wisnu? Bukankah Rama juga sakti? Mengapa ia tak melakukan usaha apapun, saat isterinya diculik? Mengapa Rama justru mengutus ‘agen rahasia’ yang bernama Anoman untuk menemui dirinya? Mengapa perintah Rama kepada Anoman, adalah supaya mengabarkan bahwa Rama dalam keadaan baik-baik saja? Mengapa Anoman hanya disuruh menyerahkan sebuah cincin kepadanya? Mengapa Anoman tidak diperintahkan untuk ‘menculik’ Dewi Sinta dan membawanya kembali ke Ayudia? Berjuta pertanyaan bergaung berulang-ulang di dalam benak Dewi Sinta.
Meskipun Dewi Sinta tetap mencintai Rama, tetapi penantian yang begitu lama dan kesepian yang merajam hatinya setiap hari dan setiap malam, membuatnya akhirnya juga berpikir. Pikiran buruk itu, juga seringkali melintas di benaknya. Ia selalu berusaha menepis berbagai pikiran buruk itu. Tetapi, pikiran dan bayangan itu selalu saja datang sendiri setiap kali ia merenung. Sesekali ia sempat juga terpikir, bahwa Rama bukanlah laki-laki yang sejati. Bagaimana bisa seorang laki-laki sejati bisa membiarkan isterinya diculik selama tiga tahun dan ternyata ia tidak melakukan upaya apapun? Sesekali, muncul juga pikiran yang menyatakan bahwa Rama merupakan suami yang tidak bertanggung-jawab. Jika ia memang suami yang bertanggung-jawab, mengapa selama bertahun-tahun membiarkan saja isterinya disekap di keputren negara lain? Sesekali, muncul juga pikiran yang mempertanyakan sumpah dan janji Laksmana, yang didengarnya sangat jelas, saat membuat garis ‘rajah kalacakra’ pelindung, sambil mengucapkan sumpah, yang menyatakan akan selalu menjaga dan melindungi Dewi Sinta selama hayatnya.
Dewi Sinta juga manusia biasa. Ia juga wanita seperti layaknya wanita lainnya. Yang membedakannya hanya kedudukannya semata. Saat Rahwana datang menemuinya, sesekali sempat juga ia memperhatikan tubuh Rahwana yang tinggi besar, gempal, berotot, dan atletis. Bahkan tubuh Rahwana jauh lebih tegap dari pada Rama suaminya. Rahwana, jelas jauh lebih ‘macho’ dan tentu bisa membuat setiap wanita gandrung dan mabuk kepayang. Sebagai seorang wanita muda yang sudah sekian lama tak tersentuh laki-laki. Dewi Sinta beberapa kali juga sempat merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdegup keras tak terkendali. Bulu kuduknya seringkali berdiri meremang, saat membayangkan tubuh Rahwana menyentuh dirinya. Bukan karena takut, tetapi karena terbuai oleh bayangan indah yang tiba-tiba merangsek ke dalam benaknya. Keringat dinginnya mengucur begitu saja di seluruh permukaan tubuhnya. Tubuhnya, tiba-tiba berubah menjadi panas dan seketika otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada gejolak gairah yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dikendalikannya. Badannya bergetar hebat, lidahnya terasa menjadi kelu dan sukar untuk berkata-kata. Jari-jari tangannya yang lentik, tiba-tiba menjadi gemetar. Tubuhnya lemas dan seakan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakkannya. Hatinya sejenak menjadi resah dan gelisah. Saat ia menjawab pertanyaan Rahwana, kalimat yang terlontar dari mulut mungilnya begitu bergetar, sehingga saat mengucapkannya menjadi terbata-bata. Untunglah, Rahwana menganggap kalimat yang diucapkan terbata-bata itu, sebagai ucapan seorang yang sedang dilanda ketakutan hebat. Andai saja Rahwana tahu apa yang sedang dirasakannya, mungkin ceritanya akan menjadi lain…..
Malam-malam yang dingin, sepi, dan hanya ditingkah oleh suara cengkerik dan binatang malam, membuat Dewi Sinta sering melamun kesepian. Dalam tidurnya, semakin lama semakin sering ia memimpikan Rahwana; dan semakin lama semakin berkurang pula mimpi-mimpi tentang Rama. Mimpi-mimpi ‘indah’ itu selalu datang sendiri tanpa diminta. Diam-diam Dewi Sinta telah jatuh cinta kepada Rahwana! Itulah kenyataan yang dialaminya. Ada perasaan galau, sewaktu memikirkan betapa Rahwana sangat mencintai dirinya, sementara Rama yang dicintainya justru tak pernah ada kabar beritanya, seakan Rama telah membiarkan dan menelantarkan dirinya. Namun, otak dan perasaan seringkali memang tidak sejalan. Di malam-malam yang sepi, Dewi Sinta sering menangis, karena merasa telah berdosa. Ia merasa telah membagi dua cintanya. Di dalam hatinya, diam-diam telah terukir nama Rahwana sebagai seseorang laki-laki yang selalu dimimpikannya, tetapi akan pernah tidak bisa dimilikinya…….